Kelonggaran tersebut belum cukup untuk menyelesaikan pembicaraan. Real Madrid juga harus menghadapi permintaan bonus perpanjangan yang menyerupai bonus penandatanganan pemain bebas transfer.
Masalah semakin kompleks karena Vinicius menginginkan kendali lebih besar atas hak citranya. Dia dikabarkan mengincar skema seperti Kylian Mbappe yang memperoleh hampir seluruh pendapatan dari penggunaan citranya.
Dalam kontraknya saat ini, Vinicius disebut hanya menguasai sekitar 50 persen hak citra. Sisanya menjadi bagian Real Madrid, sehingga perubahan skema tersebut berpotensi memengaruhi pemasukan komersial klub.
Hak citra mencakup penggunaan nama, foto, suara, tanda tangan, julukan, hingga akun media sosial pemain untuk kepentingan komersial. Nilainya sangat besar bagi Vinicius karena dia bekerja sama dengan banyak merek internasional, termasuk Nike, Apple, Pepsi, Gatorade, PlayStation, dan Visa.
Nilai komersial Vinicius membuat perundingan tersebut menjadi sangat sensitif. Real Madrid ingin mempertahankan pemasukan dari salah satu pemain dengan daya jual terbesar, sedangkan kubu Vinicius merasa statusnya pantas mendapatkan perlakuan mendekati Mbappe.