Integrasi aplikasi instax menjadi kunci pengalaman digitalnya. Pengguna dapat mengimpor konten langsung dari galeri ponsel maupun Pinterest, lalu memanfaatkan fitur Simulation untuk melihat pratinjau penempatan cetakan, di dinding, bingkai, atau aksesori, sebelum benar-benar mencetaknya. Pendekatan ini membuat proses cetak terasa lebih terencana, bukan sekadar spontan.
Sebagai bagian dari peluncuran, Fujifilm Indonesia juga menghadirkan Creative House of instax, pameran interaktif bertema 'Maximizing Possibilities' yang digelar pada 28 Januari hingga 8 Februari 2026 di Kota Kasablanka, Jakarta. Pameran ini menjadi ruang uji coba langsung bagi publik untuk merasakan bagaimana teknologi instax berkembang dari kamera instan menjadi medium ekspresi kreatif yang adaptif terhadap era digital.
Lewat dua produk terbaru ini, Fujifilm menegaskan bahwa fotografi instan masih relevan, bukan dengan nostalgia semata, tetapi melalui inovasi yang menjembatani dunia fisik dan digital.
"Melalui instax mini Evo Cinema, kami ingin menghadirkan satu kamera yang mampu membuka begitu banyak kemungkinan kreatif lintas era. Dengan fitur Eras Dial dan semangat ‘One camera, decades of possibilities’, kami berharap pengguna dapat menangkap momen-momen istimewa dengan karakter visual yang unik dan bernuansa sinematik," kata Masato Yamamoto, Presiden Direktur Fujifilm Indonesia.