Pendekatan tersebut dinilai semakin relevan di era AI, ketika teknologi mampu mengerjakan berbagai tugas teknis dengan cepat. Keunggulan manusia justru akan ditentukan oleh kemampuan berpikir analitis, berkolaborasi, berkomunikasi, dan menciptakan inovasi yang belum bisa sepenuhnya digantikan mesin.
Radyum menambahkan bahwa pencapaian akademik sebaiknya tidak hanya diukur melalui nilai rapor, tetapi juga dari kemampuan siswa menerapkan ilmu pengetahuan dalam situasi nyata.
"Kurikulum yang kami terapkan mendorong siswa untuk mengembangkan prestasi sesuai potensinya, dengan mengikuti lomba yang sesuai dengan talenta serta interest. Karena, prestasi adalah salah satu indikator bahwa siswa mampu menerapkan pengetahuan mereka menjadi solusi nyata, melalui inisiatif dan kemampuan memecahkan masalah," katanya.
Penerapan pendekatan tersebut mulai terlihat dari berbagai capaian siswa. Salah satunya adalah Shasa, siswi kelas delapan yang terpilih menjadi delegasi Indonesia dalam program Harvard Future Doctors. Melalui program itu, dia mempelajari konsep biokimia sekaligus mengikuti diskusi mengenai berbagai fondasi ilmu kedokteran bersama peserta dari berbagai negara.
Sementara itu, Arsya, siswa kelas tiga AGS, mampu menyeimbangkan prestasi akademik dengan aktivitas organisasi. Dia aktif di OSIS sekaligus meraih medali emas dan perak pada sejumlah kompetisi nasional di bidang sains, matematika, dan bahasa Inggris.
Di tengah pesatnya perkembangan AI, pengalaman seperti itu dinilai menjadi bagian penting dalam membentuk generasi yang tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memahami cara berpikir untuk menciptakan solusi.
Sebab, ketika AI semakin canggih mengerjakan pekerjaan rutin, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan kepemimpinan akan menjadi pembeda utama yang menentukan daya saing generasi muda di masa depan.