JAKARTA, iNews.id – Ancaman kecerdasan artifisial (AI) ternyata bukan sekadar soal robot mengambil alih pekerjaan manusia. Bahaya yang lebih sunyi justru mengintai dari dalam, yaitu data yang 'diracuni' atau dimanipulasi.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, mengingatkan bahwa kualitas dan keamanan data nasional kini menjadi benteng utama melindungi masyarakat dari risiko AI yang keliru, bias, bahkan disusupi manipulasi.
Menurut dia, AI sangat bergantung pada dataset. Jika data yang digunakan tidak bersih, tidak terstandar, atau sengaja dimanipulasi (data poisoning), sistem bisa menghasilkan keputusan yang salah, dan dampaknya langsung dirasakan publik. Mulai dari kesalahan keputusan otomatis, diskriminasi algoritma, hingga penyalahgunaan data pribadi.
"AI sangat rawan menjadi kacau kalau terjadi data poisoning, misalnya data yang tidak bersih," kata Nezar dalam keterangan resminya, Jumat (13/2/2026).
Nezar menekankan, pembahasan soal AI tak bisa hanya berfokus pada teknologi canggihnya saja. Justru fondasinya ada pada manajemen data yang kuat dan terstandar.
Dia mengingatkan, jika Indonesia ingin membangun inovasi AI yang berkelanjutan sekaligus berdaulat, maka tata kelola data harus menjadi prioritas utama. Tanpa itu, kecanggihan teknologi hanya akan menjadi potensi risiko baru.
AI yang dilatih dengan data tidak representatif berpotensi menghasilkan keputusan menyimpang. Dalam konteks layanan publik, kesalahan semacam ini bisa berdampak luas dan merugikan masyarakat.
Di sisi lain, pemerintah juga menghadapi dilema, yaitu bagaimana melindungi privasi dan etika tanpa mematikan inovasi.