“Keaslian terhadap budaya di sini di Indonesia akan menjadi sangat penting,” ujar Tami saat media briefing di Jakarta Pusat, Selasa (14/4/2026).
Tami menegaskan bermain game tidak sama dengan sekedar bermain media sosial. Menurutnya, dalam game pengguna tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga aktif berkreasi dan berinteraksi.
Hal itulah yang kemudian membentuk kemampuan berpikir, imajinasi, hingga kerja sama tim pada anak. “Bermain game memiliki dimensi lain, kemampuan untuk berkreasi, terhubung dengan manusia, dan membangun relasi,” jelasnya.
Lebih jauh lagi, Tami menilai game juga dapat menjadi ekosistem baru untuk pengguna menjadi kreator hingga pelaku bisnis. Dia mengungkap, banyak pengguna yang mulai bermain sejak usia 9–10 tahun dan kini telah tumbuh menjadi developer profesional yang menjalankan studio sendiri.
“Mereka sekarang benar-benar menjadi pebisnis, belajar keuangan, hukum, dan menjalankan tim,” katanya.