“Minecraft ternyata dapat membantu memperkuat ingatan jangka panjang, terutama pada orang dengan ADHD,” tulis dr Adam Prabata dalam unggahannya.
Menurut dr Adam, manfaat tersebut diduga berkaitan dengan pelepasan neurotransmiter, seperti dopamin dan noradrenalin, saat seseorang mengeksplorasi lingkungan virtual. Kedua zat kimia di otak ini berperan dalam berbagai proses kognitif, termasuk yang berkaitan dengan plastisitas hipokampus.
Hipokampus merupakan bagian otak yang memiliki peran penting dalam pembentukan dan penyimpanan memori. Karena itu, eksplorasi dalam Minecraft diduga dapat memberikan rangsangan yang mendukung proses konsolidasi memori, terutama pada anak dengan ADHD.
Meski demikian, temuan ini tidak berarti bermain Minecraft secara otomatis dapat meningkatkan daya ingat semua anak. Hasil penelitian justru menunjukkan adanya perbedaan manfaat berdasarkan kondisi anak.
“Manfaat ini spesifik untuk anak ADHD. Pada anak yang tidak ADHD, eksplorasi berlebihan justru bisa menurunkan memori,” ujar dr Adam.
Dengan demikian, manfaat Minecraft dalam konteks penelitian ini tidak semata-mata ditentukan oleh durasi bermain. Aktivitas eksplorasi di lingkungan virtual dan kaitannya dengan proses belajar menjadi aspek yang diperhatikan, khususnya dalam membantu anak dengan ADHD mengingat informasi yang dipelajari.
Namun, temuan tersebut tetap perlu dipahami sesuai dengan konteks penelitian. Hasil ini bukan berarti Minecraft dapat menggantikan penanganan ADHD atau menjadi metode peningkatan daya ingat yang berlaku bagi semua anak.