Istilah 'supermoon' lebih sering terdengar ketika terjadi bulan purnama karena Bulan terlihat lebih besar dan terang. Namun, istilah yang sama juga digunakan saat fase bulan baru terjadi berdekatan dengan perigee, meski fenomenanya tidak dapat diamati secara kasatmata.
Meski tidak terlihat di langit, gaya gravitasi Bulan tetap bekerja terhadap Bumi. Ketika Bulan berada lebih dekat dari biasanya, tarikan gravitasinya menjadi sedikit lebih kuat.
Pada saat bersamaan, Matahari dan Bulan berada hampir segaris terhadap Bumi karena memasuki fase bulan baru. Kondisi ini membuat gaya tarik gravitasi keduanya saling memperkuat sehingga menghasilkan pasang purnama (spring tide), yaitu pasang air laut yang lebih tinggi dibandingkan kondisi normal.
Akibatnya, wilayah pesisir yang memang rentan terhadap pasang laut berpotensi mengalami banjir rob, terutama jika bertepatan dengan cuaca buruk, gelombang tinggi, atau penurunan permukaan tanah (land subsidence).
Karena itu, fenomena Super New Moon sering menjadi salah satu faktor yang dipantau oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam memberikan peringatan dini terkait potensi banjir pesisir.