Ketika kondisi angin berubah menurut ketinggian, arah penyebaran abu pun bisa berbeda. Karena itu, satu wilayah dapat mengalami paparan abu sementara wilayah lain yang letaknya tidak terlalu jauh belum tentu mengalaminya dengan intensitas yang sama.
BMKG pada pengamatan terbaru bahkan menemukan sebaran abu pada dua jalur ketinggian berbeda dengan arah pergerakan yang berbeda pula.
Tidak perlu panik, tetapi tetap perlu waspada. Jika abu vulkanik mulai turun di lingkungan sekitar, masyarakat sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika udara terlihat berkabut atau terdapat endapan abu.
Penggunaan masker dan perlindungan mata juga dapat membantu mengurangi paparan langsung terhadap partikel abu.
Yang tidak kalah penting, jangan menganggap abu tipis sebagai debu biasa. Partikel vulkanik dapat mengiritasi saluran pernapasan, mata, dan kulit.
Masyarakat juga disarankan mengikuti informasi resmi BMKG, Badan Geologi/PVMBG, serta pemerintah daerah karena arah dan luas sebaran abu dapat berubah mengikuti dinamika erupsi dan kondisi atmosfer.
Dengan kata lain, Gunung Anak Krakatau tidak perlu 'dekat' dengan Jakarta untuk membuat abunya sampai ke ibu kota. Selama material erupsi masuk ke lapisan atmosfer yang tepat, angin dapat menjadi kendaraan alami yang membawanya puluhan hingga ratusan kilometer.