Bahaya abu vulkanik tidak terbatas pada mesin.
Partikel yang bersifat abrasif juga dapat mengikis permukaan pesawat. Abu dapat merusak kaca kokpit, mengganggu sensor dan sistem pesawat, serta mengurangi kemampuan pilot melihat kondisi di luar pesawat.
Karena itu, keberadaan awan abu di jalur penerbangan harus diperhitungkan meskipun konsentrasinya tidak selalu terlihat dengan mata.
Abu vulkanik dapat terbawa angin mengikuti kondisi atmosfer pada berbagai ketinggian.
Dalam pemantauan 7 September 2026, BMKG mendeteksi abu Anak Krakatau hingga ketinggian 50.000 kaki atau sekitar 15,2 kilometer. Pada lapisan atmosfer yang lebih tinggi, sebarannya telah bergerak ke arah barat hingga barat daya menuju Samudra Hindia.
Artinya, pesawat tidak harus berada tepat di sekitar Anak Krakatau untuk menghadapi ancaman abu.