Peneliti Temukan Ribuan Aplikasi Android Lacak Aktivitas Pengguna

Dini Listiyani
Ilustrasi (Foto: Rami Al-zayat/ Unsplash)

CALIFORNIA, iNews.id - Aplikasi Android populer diduga memata-matai aktivitas smartphone dan berbagi data dengan pengiklan.

Menurut penelitian terbaru dari the International Computer Science Institute, sekitar 17.000 aplikasi Android diyakini melanggaran aturan Google soal jenis aktivitas pengguna yang bisa dilacak dan dibagikan dengan pialang data. Di antara aplikasi yang dideteksi, banyak yang populer.

Temuan ini meresahkan para ahli keamanan karena aplikasi bisa melacak pengguna melalui pengidentifikasi persisten yang tidak dapat dimatikan oleh pemilik perangkat. Banyak aplikasi melacak aktivitas smartphone pengguna, termasuk mana aplikasi yang mereka gunakan dan seberapa sering membukanya.

Data yang didapatkan kemudian dibagikan kepada pengiklan sehingga mereka bisa menampilkan iklan bertarget. Mereka bisa melakukan ini melalui advertising ID, yang ditetapkan untuk setiap smartphone yang bisa dibaca oleh aplikasi apa pun yang diinstal di perangkat.

Untungnya, pengguna bisa mereset ID iklan mereka sesering mungkin dengan menghapus cookie. Tapi,  International Computer Science Institute menemukan aplikasi Android juga menghubungkan ID iklan pengguna dengan pengenal lain yang lebih permanen di perangkat mereka. ID ini termasuk alamat MAC perangkat, IMEI, dan Android ID yang tidak bisa diatur.

Saat aplikasi mengirimkan ID iklan dan hardware kepada pengiklan, Anda bisa mengatur ulang. Sebab, pengiklan masih bisa mengetahui itu Anda berdasarkan hardware ID.

Google merekomendasikan agar pengembang menghindari penggunaan pengidentifikasi hardware seperti ini saat mengumpulkan informasi tentang penggunanya. Raksasa mesin pencarian ini bertindak melarang pengembang menggabungkan ID iklan pengguna dan hardware untuk menargetkan iklan.

Tapi, beberapa aplikasi terus mengumpulkan ID iklan dan hardware pengguna. Tentu saja, praktik ini melanggar kebijakan Google.

"Dalam hal ini, mengirimkan pengidentifikasi yang tidak bisa diatur ulang bersama ID iklan benar-benar merusak properties ad ID," kata penulis utama studi Serge Egelman yang dikutip dari Daily Mail, Minggu (17/2/2019).

Egelman mengatakan dia telah menghubungi Google terkait temuan mereka pada September lalu. Sejak itu, Google mengatakan, mereka telah mengambil tindakan terhadap beberapa aplikasi yang telah diidentifikasi Egelman.

Editor : Dini Listiyani
Artikel Terkait
Bisnis
10 jam lalu

Deretan Orang Terkaya di Dunia 2026, Elon Musk Masih di Pucuk!

Internet
5 hari lalu

Menko Pratikno Tegur Google dan YouTube: Perlindungan Anak Tak Cukup Hanya Panduan

Nasional
6 hari lalu

Dewan Pers Minta Google Buka Dialog soal Publisher Rights di Era AI

Nasional
1 bulan lalu

Nadiem Heran Didakwa Perkaya Diri Rp809 Miliar: Tak Sepeser pun Uang Masuk Kantong Saya

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal