Temuan serupa juga disampaikan oleh The Sense of Smell Institute. Lembaga tersebut menyebut aroma memiliki kemampuan unik membangun ikatan emosional karena diproses langsung oleh pusat emosi di otak. Inilah sebabnya banyak orang dewasa masih mampu mengenali aroma yang identik dengan masa kecil mereka meski telah berlalu puluhan tahun.
Tak hanya berkaitan dengan memori, berbagai studi mengenai perkembangan sensorik juga menunjukkan bahwa pengalaman yang melibatkan lebih dari satu indra lebih mudah tersimpan dalam ingatan dibandingkan pengalaman yang hanya melibatkan satu indra.
Dengan kata lain, rutinitas sederhana setelah anak bermain, mulai dari mandi, berganti pakaian, mengeringkan rambut, hingga dipeluk orang tua, bukan hanya membantu menjaga kebersihan. Aktivitas tersebut juga menjadi bagian dari 'quality time' yang memperkuat ikatan emosional sekaligus membangun rasa aman dan nyaman.
Dalam momen-momen tersebut, sensasi tubuh yang bersih berpadu dengan aroma yang menyenangkan menciptakan pengalaman sensorik yang berpotensi membentuk memori positif hingga anak tumbuh dewasa.
Penelitian mengenai preferensi aroma pada anak juga menemukan bahwa mereka umumnya lebih menyukai wewangian yang ringan, segar, ceria, dan mudah dikenali. Aroma buah seperti stroberi, apel, jeruk, raspberry, dan yuzu sering dikaitkan dengan energi positif, sementara aroma floral yang lembut maupun sentuhan vanila menghadirkan kesan hangat dan menenangkan.