Populasi penguin tersebut berkembang dalam kondisi geografis yang relatif terisolasi. Dalam rentang waktu sekitar 300.000 hingga 500.000 tahun, perbedaan lingkungan dan keterbatasan perpindahan antarpopulasi diduga berperan dalam membentuk garis evolusi yang berbeda.
Kepulauan Kerguelen sendiri merupakan wilayah yang sangat terpencil. Lokasinya berada jauh dari daratan berpenghuni dan menjadi salah satu alasan mengapa keanekaragaman hayati di kawasan tersebut relatif sulit diteliti.
Para ilmuwan memperkirakan Pygoscelis kerguelensis juga memiliki hubungan ekologis dengan Pulau Heard. Data pelacakan satelit menunjukkan penguin muda dari Kerguelen dapat bergerak hingga wilayah tersebut untuk mencari makan.
Penemuan ini bukan hanya menambah daftar spesies penguin yang diketahui manusia. Pemisahan empat spesies gentoo juga memiliki implikasi penting bagi upaya konservasi.
Sebab, penelitian tersebut memperkirakan tiga dari empat garis keturunan gentoo berpotensi mengalami kehilangan habitat akibat perubahan iklim. Pygoscelis kerguelensis termasuk salah satu yang menghadapi risiko tersebut karena habitatnya berada di kawasan sub-Antarktika yang sensitif terhadap perubahan lingkungan.