NUR-SULTAN, iNews.id - Nur-Sultan namanya. Setiap mata yang memandang seakan terpesona dengan penampilannya. Deretan bangunan modern berdesain kontemporer dan futuristik menjadi ciri khasnya. Inilah kesan saat pertama kali saya menapaki Nur-Sultan, ibu kota Kazakhstan.
Terletak di bagian utara Kazakhstan, aliran Sungai Ishim membelah Nur-Sultan menjadi dua bagian. Di sebelah kanan terdapat kota lama bekas peninggalan Uni Soviet. Deretan bangunan berdesain lama dengan taman-taman mungil dan suasana yang lengang mengiringi perjalanan saya menyusuri kota lama. Hazret Sultan, masjid terbesar di Asia tengah merupakan salah satu bangunan baru di kota lama. Ya, meski menjadi negara pecahan Uni Soviet, namun 70,2% dari 18-an juta jumlah penduduk Kazakhstan beragama Islam.
Sedangkan Kota Baru Nur-Sultan terdapat di sebelah kiri Sungai Ishim. Kota Baru ini ditandai dengan gedung pencakar langit berdesain kontemporer dan futuristik. Sistem tata kotanya pun berkonsep cluster dengan trotoar dan jalan raya yang lebar. Kota baru ini pun menjadi pusat administrasi dan bisnis. Di sinilah istana kepresidenan dan gedung kementerian berada.
Perjalanan saya di Nur-Sultan pun berlanjut dengan menyusuri deretan bangunan modern yang berkelindan di seantero kota. Salah satunya adalah komplek gedung expo Nur-Alem yang berbentuk seperti bola besar berwarna biru. Bentuk Nur-Alem ini seolah mengingatkan saya pada pesawat ruang angkasa seperti yang ada di film fiksi ilmiah.
Belum puas berjalan-jalan menyusuri kemegahan arsitektur Nur-Sultan yang menawan. Di sore hari, dalam semilir hembusan angin musim dingin, perjalanan saya berlanjut ke Baiterek Tower yang menjadi ikon utama Nur-Sultan. Baiterek adalah monumen dan menara observasi setinggi 105 meter yang berada di pusat kota. Bentuk Baiterek menggambarkan pohon poplar atau pohon kehidupan dalam mitologi Turki dan Samruk yang menopang sebutir telur emas di puncaknya.