Tak hanya itu saja, bahan dan teknologi topeng yang ditemukan di Gua Made juga memiliki kesamaan dengan bahan yang biasa digunakan untuk pembuatan barang-barang seni yang meniru benda cagar budaya. Bahkan, terdapat bukti tindakan adaptif yang ditemukan di topeng Gua Made.
"Awal mula ditemukan itu sekatnya seperti pintu atau lorong. Kalau sekarang kita harus turun dulu ke bawah tanah sekitar 5 sampai 7 (meter) baru bisa kita bisa jalan. Itupun kalau ada alat yang kita gunakan untuk masuk karena sekarang sudah terkena air dan lumpur jadinya buntu lagi," kata Juru pelihara Gua Made, Vevy Irawati.
Ekskavasi pertama, kata Vevy, dilakukan sekitar tahun 2006. Bekerja sama dengan Italia, BJB, didukung para arkeolog mencari definisi terkait Goa Made ini. Namun sampai saat ini belum diketahui secara pasti asal-usul sebenarnya Gua Made.
"Karena penelitiannya memang belum selesai. Pertama, terkendala masalah lahan. Situs Kedung Watu atau Gua Made ini berada di lahan hutan, jadi kita nggak bisa sembarangan untuk mengadakan ekskavasi," kata Vevy.
Kemudian pada 2007, para peneliti sempat melakukan ekskavasi. Pada jarak tertentu, Vevy mengatakan lorong tersebut memiliki bagian kecil yang terbuat dari susunan bata berukuran besar yang berfungsi sebagai sirkulasi udara.