Pembangunan jalur khusus sepeda ini menjadi tonggak kepedulian pemerintah kepada warga. Jalan didesain untuk warga, bukan untuk mesin. Jalur sepeda bersisian dengan pedestrian dan aspal buat kendaraan, tak berhimpitan dan bersinggungan.
Tak berhenti di jalur khusus sepeda, anggaran pemerintah juga membanjir di infrastruktur pendukung. Di kawasan city center, tempat stasiun kereta api dan bus berada, dibangun parkiran berkapasitas 12.500 sepeda. Ditambah lagi parkir pinggir jalan yang bisa menampung 30 ribu sepeda.
Melihat Jakarta dengan lautan motor, seperti itulah Utrecht dengan sepeda. Setiap hari ada 33 ribu pesepeda lalu lalang di seluruh kota. Setidaknya 56 persen warga bepergian ke tengah kota menggunakan sepeda. Pemerintah mengklaim 94 persen warganya memiliki minimal 1 sepeda.
Bagi pendatang seperti saya, bisa ikut menikmati kota sepeda ini dengan menyewa secara langsung atau melalui aplikasi. Karena toko dan bengkel sepeda tersebar di banyak area pertokoan.
Tradisi bersepeda pernah marak di beberapa kota di Tanah Air. Tetapi kebiasaan itu menghilang sejalan dengan kemajuan teknologi. Jangan pernah berpikir tradisi bersepeda di Belanda masih abadi karena teknologi transportasi berjalan lambat.
Di Utrecht ada stasiun kereta api yang terbesar di negara Belanda. Kota ini juga punya bis dan trem yang beroperasi dengan jam terukur. Di Utrect pula ada museum kereta api Belanda. Sejarah bagaimana kereta api di bawa ke Indonesia ada di museum itu.
Jadi, di tangan pemimpin visioner dan pro rakyat, teknologi dan tradisi tak harus bersilih.