Ada juga yang mengaitkan dengan keberadaan Kerajaan Melayu. Seorang sarjana Belanda JL Moin menyebutkan, Muara Takus pernah menjadi pusat Kerajaan Sriwijaya. Pandangan ini didasarkan pada tafsiran atas catatan pendeta Buddha asal China yang pernah tinggal di kerajaan itu untuk mempelajari tata bahasa sansekerta pada 672 M.
Sayangnya, belum ditemukan prasasti atau catatan sejarah yang menentukan kapan pastinya kompleks Candi Buddha Tantrayana itu dibangun. Tabir sejarah Candi Muara Takus boleh jadi sedikit terbuka dari prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya.
Salah satunya adalah prasasti kedudukan bukti tahun 604 Saka atau 682 M. Dalam prasasti itu tertulis, Dapunta Hyang Sri Jayanasa (penguasa Sriwijaya pada masa itu) melakukan perjalanan naik perahu membawa puluhan ribu tentara. Di sisi lain, ada sejarawan yang menafsirkan kawasan Minanga Tamwan adalah kawasan Muara Takus saat ini.