Sejarah Jembatan Gladak Perak Lumajang (Foto: Instagram@sulaimanbromo)
Intan Afika Nuur Aziizah

JAKARTA, iNews.id - Belum lama ini masyarakat dihebohkan dengan bencana erupsi Gunung Semeru di Lumajang. Bahkan, akibat erupsi tersebut, jembatan bersejarah warga Lumajang, Gladak Perak terputus diterjang erupsi.

Jembatan Gladak Perak merupakan jalanan akses utama antara Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Jembatan ini terputus akibat letusan Gunung Semeru yang terjadi pada Sabtu (4/12/2021) lalu. Dengan demikian, membuat para pengendara yang ingin melintas terpaksa harus putar balik.

Rupanya jembatan Gladak Perak ini adalah salah satu peninggalan sejarah dari kolonial Belanda. Jembatan Gladak adalah saksi bisu terjadinya Agresi Militer Belanda I.

Penasaran seperti apa sejarah dari Jembatan Gladak Perak? Berikut ulasannya dirangkum pada Selasa (7/12/2021).

Gladak Perak memiliki dua jembatan, satu jembatan lama yang sudah tidak difungsikan dan satu jembatan baru yang kerap digunakan sebagai lalu lintas. Keduanya terletak di atas Sungai Besuk Sat, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

Sebelum dibangun dengan konstruksi besi, Belanda telah membangun jembatan gantung sebagai akses transportasi kala itu. Namun, karena tingkat keamanannya yang kurang baik, pemerintah kolonial memutuskan untuk membangun jembatan Gladak Perak tersebut dengan lebar sekitar 4 meter dan panjang 100 meter.

Dikutip dari Visit Lumajang, jembatan ini dibangun untuk melancarkan akses agresi militer Belanda pada 21 Juli 1947. Melalui jembatan ini, para kolonial Belanda memasok logistik makanan dari Lumajang.

Keberadaan jembatan tersebut membuat tentara Indonesia di daerah Lumajang terancam. Mereka pun terpaksa harus mundur kala itu. Akhirnya, demi memutus akses para tentara kolonial yang akan melakukan penyerangan, pejuang Indonesia meledakkan jembatan Gladak Perak tersebut.

Pada 1952, kondisi Indonesia sudah mulai pulih. Jembatan Gladak Perak pun akhirnya kembali dibangun dan digunakan sebagai akses penghubung. Namun melihat jembatan tersebut sudah sangat tua, pemerintah Indonesia memutuskan untuk membangun jembatan baru sebagai akses utama yang berada di sisi selatan jembatan lama.

Jembatan Gladak Perak baru dibangun pada 1998 dengan pondasi beton bertulang yang memiliki panjang mencapai 130 meter. Jembatan itu terkenal sangat kokoh dan kerap dilalui ratusan kendaraan setiap harinya.

Sementara itu, jembatan Gladak Perak lama yang dibangun kolonial Belanda sudah tidak difungsikan lagi. Jembatan tersebut telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah.

Banyak para wisatawan yang datang menjadikan jembatan Gladak Perak lama sebagai spot foto mereka. Latar belakang sungai dan bukit yang indah memang terlihat jelas di sana. Tak heran jika para wisatawan datang demi mendapatkan foto terbaik mereka.

Namun sayangnya, erupsi Gunung Semeru yang terjadi pada Sabtu (4/12/2021) lalu menyebabkan jembatan Gladak Perak kembali hancur akibat diterjang lahar dingin. Terputusnya jembatan Gladak baru dan lama membuat jalur lintas selatan Lumajang-Malang tidak bisa dilalui. Kini, semua kendaraan telah dialihkan melalui Kabupaten Probolinggo.



Editor : Vien Dimyati

BERITA TERKAIT