Dia juga menjelaskan mekanisme layanan tersebut. Pelanggan cukup mengirimkan buku yang belum sempat dibaca, kemudian buku tersebut akan dibaca dan diberi berbagai tanda.
“Kakaknya punya buku tapi males bacanya, kirim ke aku nanti aku baca, buat highlight, kasih penanda, pokoknya dibuat sampe terlihat udah dibaca berkali-kali,” kata pemilik akun.
Setelah pengerjaan selesai, buku dikirim kembali kepada pemiliknya. Kondisi buku pun akan dipenuhi highlight, penanda halaman, serta sticky note sehingga tampak seperti sudah beberapa kali dibaca.
Tarif jasa joki baca buku tersebut bervariasi, mulai Rp700 ribu hingga Rp1,6 juta, tergantung ketebalan buku dan kebutuhan pengerjaan.
Fenomena ini menjadi salah satu contoh munculnya jenis jasa yang tidak biasa di media sosial. Jika umumnya jasa joki berkaitan dengan tugas atau pekerjaan tertentu, layanan ini menawarkan diri untuk membaca buku atas nama orang lain sekaligus membuatnya terlihat seperti aktivitas membaca pribadi.
Unggahan tersebut pun ramai diperbincangkan karena berkaitan dengan kebiasaan membangun citra sebagai pencinta buku atau bookworm di media sosial.