Keseruan perang tomat di Lembang Bandung Barat (Foto: Instagram @algifs)
Kiki Oktaliani

JAKARTA, iNews.id - Festival perang tomat paling terkenal di seluruh penjuru dunia adalah La Tomatina dari kota Bunol, Valencia, Spanyol. Tak perlu jauh-jauh ke Spanyol karena festival serupa ternyata juga diselenggarakan di Indonesia, tepatnya di Cikareumbi, Desa Cikidang, Lembang, Bandung Barat.

Tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Cikareumbi ini merupakan bentuk dari hajatan rutin yang telah dilaksanakan sejak 2012. Dalam masyarakat lokal lebih dikenal dengan nama Rempug Tarung Adu Tomat. 

Meskipun terdengar menghambur-hamburkan makanan, festival ini menggunakan tomat yang sudah tak layak digunakan atau busuk. Terdiri dari dua kubu lawan yang terdiri dari wanita maupun pria, dari anak-anak hingga orang tua.

Tomat busuk yang digunakan sebagai senjata mengartikan hal tersebut untuk membuang sifat buruk yang ada pada diri manusia atau sebagai ritual buang sial dari segala macam bentuk, hal-hal buruk, atau sifat yang tidak baik bagi masyarakat setempat terutama penyakit tanaman, yang diungkapkan dengan melempar tomat atau membuang tomat yang sudah busuk. Dalam peribahasa adat setempat yaitu “miceun geu geuleuh keumeuh” yang artinya mensucikan diri.

Setelah mengalami gagal panen, tomat yang dibiarkan begitu saja dan terinjak-injak menjadi inspirasi perayaan perang tomat ini berasal.

Persiapan sebelum perang tomat

Dalam prosesinya, seluruh masyarakat secara gotong-royong mempersiapkan ritual perang tomat, dimulai dari proses membersihkan desa.

Dengan bergotong-royong saling bahu membahu mereka mempersiapkan ritual perang tomat dari dimulainya proses membersihkan desa, menghias desa hingga membuat perlengkapan perang tomat. 

Rempug Tarung Adu Tomat dilakukan setelah melalui upacara Nimang Topeng (alat perangkat perang) seperti topeng, tameng dan tomat busuk yang akan digunakan sebagai senjata saat Rempug Tarung Adu Tomat. Selain pelaku dan penari semua penonton yang hadir dapat berpartisipasi ikut dalam kegiatan itu.

Sebelum acara inti dimulai, masyarakat desa melakukan arak-arakan keliling kampung dengan membawa hasil bumi berupa sayur-sayuran dan buah-buahan yang ditata semenarik mungkin. Diiringi dengan tabuhan alat musik menciptakan irama yang dinamis.

Memasuki acara inti, peserta akan mendengar musik karawitan yang dimainkan dibarengi dengan para wanita yang memasuki arena perang untuk melakukan sesi upacara ngajayak topeng, di mana mereka menari dengan membawa nampan dan pelindung kepala yang terbuat dari anyaman bambu di atasnya.

Sedangkan para lelaki melakukan tarian kecil perang tomat dengan peralatan lengkap seperti Gladiator. Tembang karawitan pun mulai mengalun keras lagi sebagai tanda perang dimulai. 

Di sinilah puncak perang tomat, di mana semua masyarakat terlibat dengan saling lempar tomat yang telah disediakan kepada siapapun.

Pada akhir acara, seluruh masyarakat desa kembali membersihkan area perang adu tomat secara bergotong-royong, sampah tomat yang ada kemudian dikumpulkan untuk dijadikan sebagai pupuk organik.



Editor : Vien Dimyati

BERITA TERKAIT