"Jadi setelah panen, ceri itu kami cuci, kemudian dimasukkan ke dalam tank atau plastik, kami vacuum sampai oksigennya hampir nol. Di situ yeast, bakteri, fungi yang ada di kopi kami kontrol," jelas Roby.
Eksperimen tersebut membuat kopi dari Mandalagiri memiliki karakter rasa yang berbeda ketika diseduh. Profilnya dikenal cenderung fruity dan juicy, dengan rasa manis yang muncul berlapis.
Dalam sajian manual brew, karakter yang muncul antara lain aroma brown sugar, rasa manis menyerupai anggur, serta sentuhan buah seperti peach.
Perubahan karakter tersebut menunjukkan bahwa cita rasa kopi tidak hanya ditentukan oleh varietas dan lokasi tempat tanaman tumbuh. Tahapan setelah panen juga memiliki peran dalam membentuk pengalaman rasa ketika kopi akhirnya diseduh.
Fermentasi menjadi salah satu bagian penting dalam proses tersebut. Dengan mengatur kondisi selama pengolahan, petani atau pengolah kopi dapat mengeksplorasi karakter rasa yang berbeda dari buah kopi yang sama.
Inovasi pengolahan juga mengubah nilai ekonomi hasil kebun. Jika sebelumnya ceri kopi dijual sekitar Rp7.000 per kilogram, pengolahan lebih lanjut membuka peluang bagi kopi tersebut untuk memiliki nilai tambah dan dipasarkan dalam bentuk biji kopi sangrai maupun minuman.
Pada akhirnya, perjalanan Yellow Bourbon dari Gunung Mandalagiri memperlihatkan bagaimana inovasi di tingkat kebun dapat mengubah cara kopi dinikmati. Buah kopi yang awalnya hanya dipandang sebagai hasil panen dapat dikembangkan melalui proses pascapanen untuk menghadirkan profil rasa yang lebih spesifik di dalam cangkir.