Menurut Luvita, makanan memiliki kemampuan untuk menjembatani perbedaan latar belakang dan budaya. Sebab itu, kompetisi tersebut bukan sekadar ajang mencari pemenang, tetapi juga kesempatan memperkenalkan kuliner kedua negara melalui kreasi yang inovatif.
“Makanan adalah bahasa universal yang bisa meng-connect ke semua orang. Jadi ini adalah acara-acara yang sangat-sangat bagus untuk kita memperkenalkan makanan Korea dan juga makanan Indonesia di waktu bersamaan,” ujarnya.
Dalam menilai karya peserta, Luvita tidak hanya memperhatikan penampilan dessert. Dia juga ingin memahami gagasan yang mendasari kreasi tersebut, termasuk alasan pemilihan bahan dan cara peserta menggabungkan unsur kuliner Korea dengan Indonesia.
Menurutnya, setiap bahan harus memiliki peran yang jelas dan mampu mendukung keseluruhan hidangan. Perpaduan dua budaya kuliner tidak cukup hanya ditampilkan melalui penggunaan bahan-bahan dari masing-masing negara.
“Pertama pastinya saya akan tanya ke kontestan, purpose-nya bikin makanan ini apa. Saya pengin tahu kenapa kalian bikin ini. Dan kedua, pastinya saya akan lihat unsur-unsur Indonesianya dan Koreanya disatukan seperti apa,” kata Luvita.