Penulis pun mencoba meracik Khao Taen dengan menambahkan topping yang tersedia. Perpaduan rasa yang muncul ternyata cukup unik. Ada sensasi manis dari karamel kelapa, rasa asam-manis dari selai nanas, serta tekstur renyah dari granola yang melengkapi kerenyahan Khao Taen.
Saat disantap bersama topping, rasa yang muncul terasa campur aduk, mulai dari manis, gurih, hingga sedikit asam. Perpaduan ini membuat Khao Taen terasa berbeda dari camilan beras pada umumnya.
Pengalaman tersebut menjadi semakin menarik ketika Khao Taen dicicipi tanpa tambahan topping. Rasa gurih dari camilan ini langsung terasa, mengingatkan penulis pada rengginang yang biasa dijumpai di Indonesia.
Kemiripan itu bukan tanpa alasan. Khao Taen dan rengginang sama-sama dikenal sebagai camilan berbahan dasar beras ketan yang diolah hingga menghasilkan tekstur renyah. Meski demikian, keduanya memiliki karakter penyajian dan variasi rasa yang berbeda.
Khao Taen sendiri dikenal sebagai camilan tradisional Thailand Utara. Dalam penyajian yang ditemui penulis di Kahavadi Chiang Rai, camilan ini tampil dengan pendekatan yang lebih personal karena tamu bisa menentukan sendiri kombinasi topping yang ingin dicoba.