28 Kesepakatan Migas Diteken di Bali, Berpotensi Kantongi Pendapatan Rp36 Triliun

Suparjo Ramalan ยท Jumat, 25 November 2022 - 12:55:00 WIB
28 Kesepakatan Migas Diteken di Bali, Berpotensi Kantongi Pendapatan Rp36 Triliun
Pelaku industri hulu migas menandatangani kesepakatan komersial di Konvensi Internasional III Industri Hulu Minyak dan Gas (IOG) 2022 di Nusa Dua, Bali, Jumat (25/11/2022). Foto: Antara

NUSA DUA, iNews.id - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) melaporkan ada 28 kesepakatan komersial yang diteken pada pertemuan industri hulu minyak dan gas (migas) 2022 di Nusa Dua, Bali. Kesepakatan ini berpotensi meraup pendapatan sekitar 2,3 miliar dolar AS atau setara Rp36 triliun.

"Potensi penerimaan mencapai 2,3 miliar dolar AS," kata Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto di sela Konvensi Internasional III Industri Hulu Minyak dan Gas (IOG) 2022 di Nusa Dua, Bali, dikutip dari Antara, Jumat (25/11/2022).

Adapun kesepakatan tersebut, yakni 10 dokumen mengenai Prosedur Election Not To Take in Kind (ENTIK). ENTIK adalah perjanjian yang mengatur tugas dan tanggung jawab antara SKK Migas dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) sebagai penjual minyak mentah dan kondensat bagian negara.

Selain itu, ada 18 dokumen perjanjian jual beli gas bumi (PJBG), amandemen PJBG, Heads of Agreement (HoA), nota kesepahaman (MoU) untuk gas pipa, LNG, dan LPG.

Dari 28 perjanjian itu berpotensi menghasilkan lifting (penjualan) minyak dan kondensat sebanyak 265.000 barel minyak per hari. Selain itu, perkiraan total lifting gas bumi mencapai 390 miliar british thermal unit (TBTU) dengan rentang durasi kontrak 2-11 tahun.

Dia menuturkan, penandatanganan kontrak tersebut tidak hanya menghasilkan pendapatan, tetapi juga untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia. 

Dwi menambahkan, minyak mentah dan kondensat yang terjual seluruhnya akan disuplai untuk kebutuhan domestik. Sementara gas yang terjual sebagian akan disuplai ke pabrik pupuk dan petrokimia di Sumatera Selatan dan Sulawesi Tengah untuk pengembangan industri di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Tengah, serta kelistrikan untuk kebutuhan PLN. Adapun LPG dari Sumatera Selatan rencananya seluruhnya akan dipasok untuk kebutuhan dalam negeri. 

"Ini menunjukkan komitmen hulu migas dalam menjaga ketahanan energi nasional," ucapnya.

Komersialisasi migas, khususnya gas bumi menjadi salah satu pilar strategis dalam mendukung pencapaian visi jangka panjang SKK Migas dengan target produksi satu juta barel minyak per hari dan gas bumi sebesar 12 miliar kaki kubik per hari (BSCFD) pada 2030. Produksi tersebut akan diprioritaskan untuk pembeli dalam negeri. Meski begitu, tantangan yang dihadapi adalah penyerapan gas bumi dalam negeri cenderung stagnan. 

SKK Migas mencatat sejak 2012, secara rata-rata pertumbuhan pemanfaatan gas bumi oleh pembeli dalam negeri mencapai 1 persen per tahun. Pertumbuhan ini lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5 persen per tahun. 

"Karena itu perlu ada terobosan dari seluruh pihak untuk meningkatkan kebutuhan pembelian gas bumi di dalam negeri," katanya. 

Editor : Jujuk Ernawati

Follow Berita iNews di Google News

Bagikan Artikel:




Lokasi Tidak Terdeteksi

Aktifkan untuk mendapatkan berita di sekitar Anda