8 Juta Rumah Tak Berpenghuni, Pemerintah Jepang Jual Rumah Hanya Seharga Rp7 Juta

Jeanny Aipassa ยท Rabu, 15 September 2021 - 20:25:00 WIB
8 Juta Rumah Tak Berpenghuni, Pemerintah Jepang Jual Rumah Hanya Seharga Rp7 Juta
Salah satu rumah di wilayah pedesaan Wakayama, Jepang, yang kosong. (Foto: Istimewa)

TOKYO, iNews.id - Pemerintah Jepang sedang menggalakan program rumah murah bahkan gratis untuk memikat warga perkotaan pindah ke pedesaan. Hal itu, terkait dengan rumah tak berpenghuni atau kosong (disebut Akiya) yang jumlahnya tercatat mencapai 8 juta unit, bahkan terus bertambah. 

Akiya biasanya terletak di pedesaan, milik pasangan lansia yang masuk panti werda atau meninggal dunia. Rumah tersebut dibiarkan kosong alias tidak dihuni oleh anak atau kerabat karena kebanyakan generasi muda di Jepang bekerja dan menetap di kota. Selain itu, mereka biasanya menghindari kewajiban membayar pajak atas rumah peninggalan orang tua. 

Berdasarkan Survei Perumahan dan Tanah yang dilakukan Pemerintah Jepang pada 2018, terdapat 8,49 juta Akiya atau rumah kosong, terutama di perfektur Tochigi dan Nagano. Beberapa pedesaan di perfektur itu bahkan nyaris kosong, hingga seperti "desa hantu". 

Terkait dengan itu, pemerintah setempat berinisiatif membuat situs Akiya Bank, yang berisi iklan informasi dan profil lengkap tentang rumah-rumah kosong tersebut. 

Pemerintah Jepang memasang harga jual yang rendah untuk Akiya, yakni di kisaran 50.000 yen atau sekitar Rp6,5 juta hingga Rp7 juta per unit. Bahkan di perfektur Okutama, pinggiran Tokyo, rumah diberikan secara gratis. 

Meski sudah mematok harga yang rendah, ternyata tak mudah untuk menjual Akiya di Jepang. Pasalnya membeli rumah bekas di Jepang sering dikaitkan dengan mitos kesialan akibat fenomena bunuh diri, pembunuhan, atau kodokushi, yakni meninggal sendiri tanpa diketahui orang lain. Hal itu, memicu stigma bahwa membeli rumah bekas adalah kegagalan sosial bagi seseorang. 

Namun Pemerintah Jepang tak kehilangan akal untuk menawarkan Akiya, yang kian bertambah di masa pandemi Covid-19. Selain mematok harga rendah bahkan gratis, pemerintah juga menawarkan subsidi pembelian rumah atau perawatan anak bagi warga Jepang yang bersedia pindah ke pedesaan dan menempati Akiya. 

Syaratnya, warga Jepang yang berusia di bawah 40 tahun, memiliki pasangan atau satu anak di bawah 18 tahun. Akiya yang ditempati pun diizinkan untuk dimanfaatkan sebagai tempat usaha, seperti warung makan, toko kelontong, atau bengkel. 

Calon pemilik Akiya hanya perlu menyiapkan biaya untuk mengurus pajak dan administrasi, serta kemungkinan biaya tambahan untuk renovasi rumah yang tidak tercover subsidi pemerintah. 

Syarat tersebut berlaku bagi warga negara Jepang atau yang telah memiliki visa permanent resident dan berkomitmen untuk menjadi penghuni tetap Akiya di pedesaan. 

Penawaran rumah murah bahkan gratis di pedesaan tersebut, sejalan dengan program Perdana Menteri Jepang, Yoshihide Suga, yang berjanji menjadikan revitalisasi pedesaan sebagai landasan platformnya ketika ia menjabat pada September 2020.

Dia telah berjanji untuk merangsang ekonomi pedesaan dan memfokuskan kembali upaya pemerintah di luar wilayah metropolitan Tokyo.

“Melalui reformasi pariwisata dan pertanian, kami akan menciptakan arus orang ke daerah pedesaan, meningkatkan pendapatan lokal, merevitalisasi daerah pedesaan, dan meningkatkan ekonomi Jepang,” kata Suga dalam pidatonya di parlemen Jepang pada Oktober 2020, seperti dikutip Insider.

Editor : Jeanny Aipassa