Aktif dalam Eksplorasi, Cadangan IATA Saat ini Capai 253,42 Juta MT
Prospek Pasar Batu Bara Indonesia
Kinerja Luar Biasa, IATA Tambah Modal Melalui HMETD
Efek berkepanjangan yang timbul dari konflik Rusia-Ukraina yang berkelanjutan, mengakibatkan keadaan ekonomi yang semakin tertekan, sebagian besar negara terpaksa membayar harga tinggi sumber daya energi alam karena tidak ada alternatif lain yang efisien dan mudah diakses dianggap sebagai prioritas utama.
Harga sumber daya energi seperti batu bara, minyak, dan gas tetap kuat karena sanksi berkelanjutan terhadap sumber daya Rusia, kapasitas produksi terbatas di negara-negara kaya sumber daya alam, dan rencana transisi energi terbarukan yang juga menyebabkan beberapa fasilitas produksi dirampingkan atau dibongkar dan tidak memiliki efisiensi pembangkit listrik yang sama dengan sumber daya alam.
Pendapatan Usaha IATA Melesat 122 Persen di 2021 Berkat Akuisisi BCR
Batu bara Indonesia juga mengalami permintaan yang kuat dari India dan beberapa negara Eropa seperti Jerman, Spanyol, Italia, dan Belanda, dikarenakan harga batu bara yang relatif jauh lebih murah dibandingkan minyak dan gas.
Harga batu bara dibagi menurut nilai kalori, dengan kalori tinggi dikaitkan dengan harga yang lebih tinggi. Harga batu bara kalori tinggi yang terlalu mahal membuat batu bara kalori rendah menjadi pilihan yang sangat menarik bagi negara-negara yang ingin memaksimalkan nilai efisiensi pembangkit listrik, di mana IATA merupakan salah satu produsen.
Editor: Aditya Pratama