ASEAN Centre for Energy: 2050, Permintaan Energi di Asia Tenggara Naik 3 Kali Lipat dari 2020

Mochamad Rizky Fauzan ยท Rabu, 28 September 2022 - 20:27:00 WIB
ASEAN Centre for Energy: 2050, Permintaan Energi di Asia Tenggara Naik 3 Kali Lipat dari 2020
ASEAN Centre for Energy: 2050, permintaan energi di Asia Tenggara naik 3 kali lipat dari 2020

JAKARTA, iNews.id - ASEAN Centre for Energy (ACE) merilis laporan prospek energi ASEAN edisi ke-7 (The 7th ASEAN Energy Outlook/AEO7) pada 40th ASEAN Ministers on Energy Meeting (AMEM). Dalam laporan tersebut disebutkan, permintaan energi di Asia Tenggara (ASEAN) pada 2050 akan meningkat tiga kali lipat dari 2020.

Publikasi ini untuk mendukung realisasi ASEAN Plan of Action for Energy Cooperation (APAEC) melalui empat jalur berbeda hingga 2050 untuk mencapai target. Direktur Eksekutif ACE Nuki Agya Utama mengatakan, laporan prospek energi ini dikembangkan ACE bekerja sama dengan pakar nasional dari negara anggota ASEAN dan dipandu oleh Jaringan Sub-sektor Kebijakan dan Perencanaan Energi Regional ASEAN (REPP-SSN). 

Dukungan juga diberikan oleh Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH melalui Program Energi ASEAN-Jerman (AGEP), Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri (METI) Jepang, dan ASEAN Climate Change and Energy Project (ACCEPT).

"ACE berhasil mencapai tonggak sejarah dengan melakukan pemodelan kerja in-house hingga 100 persen dalam pengembangan AEO7, yang kian memperkuat status ACE sebagai think tank ASEAN di bidang energi dan mewujudkan semangat 'dari ASEAN, oleh ASEAN, dan untuk ASEAN," kata Nuki, Rabu (28/9/2022).

Dia menjelaskan, untuk menjawab dinamika energi global dan mengeksplorasi inovasi teknologi dalam APAEC fase ke-2, AEO7 memperkenalkan Skenario Optimalisasi Biaya Terkecil (Least-Cost Optimization/ LCO), yang memproyeksikan masa depan yang lebih realistis melalui cerminan semua teknologi yang berpotensi layak di negara berkembang seperti ASEAN.

"Kami yakin AEO7 dapat membuka jalan kesempatan untuk kemitraan yang lebih kolaboratif guna kemajuan, keamanan dan ketahanan energi di ASEAN," ujarnya.

Beberapa temuan-temuan yang dimuat dalam AEO7, pertama, pertumbuhan permintaan energi di ASEAN akan terus meningkat hingga 2050, diperkirakan sekitar tiga kali lipat dari 2020. Bahan bakar fosil tetap menjadi komponen terbesar dari sistem energi. 

Tanpa upaya yang signifikan, kawasan ini dapat menjadi net importir gas pada 2025 dan net importir batubara pada  2039. Transisi energi yang aman dan tangguh adalah kuncinya. 

Kedua, upaya ASEAN saat ini menunjukan bahwa pangsa Energi Baru dan Terbarukan (EBT) akan mengungguli target kapasitas terpasang sebesar 2,9 persen pada 2025. Sebaliknya, bagian EBT dalam total pasokan energi akan berkurang sebesar 5,5 persen dan pengurangan intensitas energi berkurang sebesar 2,8 persen. 

Ketiga, skenario LCO menyoroti upaya alternatif diatas tahun 2025 yang hemat biaya, dimana sistem pembangkit listrik dapat menelan biaya 174,7 miliar dolar AS lebih rendah dari skenario target regional tahun2021-2050 — hal itu tak lain ialah untuk mengamankan wilayah yang dianggap sebagai jaringan listrik ASEAN dan sistem penyimpanan baterai dan energi.

Terakhir, Penerapan EBT yang kuat dalam skenario kebijakan regional akan menghasilkan emisi sebesar 4,3 tCO2e/kapita (25 persen lebih rendah dari baseline), 5,5 juta pekerjaan pada tahun 2050, dan 8,8 juta hektar lahan yang dibutuhkan untuk biofuel.

Editor : Jujuk Ernawati

Bagikan Artikel:







Lokasi Tidak Terdeteksi

Aktifkan untuk mendapatkan berita di sekitar Anda