Ekonomi Dunia Diprediksi Gelap 2023, Sandinomics: Optimistis, RI Mampu Hadapi Krisis Ekonomi Global!
JAKARTA, iNews.id - Krisis global yang terjadi pada tahun 2022 serta prediksi akan gelapnya perekonomian dunia pada tahun 2023 menarik perhatian seluruh pihak. Buruknya perekonomian global yang dipicu inflasi tinggi, krisis pangan dan energi hingga perang Rusia-Ukraina turut berimbas terhadap Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Pengamat Ekonomi Universitas Indonesia, Fithra Faisal dalam Talkshow Sandinomics bertajuk 'Memahami Resesi dan Relevansi Pemenang Nobel Ekonomi Tahun 2022' pada 19 Oktober 2022.
Dalam diskusi bersama Alex Datuk, Fithra menyampaikan kondisi perekonomian Indonesia dalam menghadapi ancaman resesi ekonomi global pada tahun 2023. Dalam periode awal pandemi Covid-19 yaitu kuartal II tahun 2020 hingga kuartal I tahun 2021, Indonesia mengalami resesi.
"Kalau dua kuartal berturut-turut kita mengalami pertumbuhan ekonomi negatif atau minus, artinya sudah masuk wilayah resesi," ujar Fithra.
Namun, perekonomian Indonesia membaik pascaterkendalinya Covid-19. Ekonomi Indonesia tercatat tumbuh positif sejak kuartal II tahun 2021, yakni sebesar 3,69 persen. Pertumbuhan ekonomi pun kembali meningkat pada kuartal II 2022 sebesar 5,44 persen.
Merujuk hal tersebut, Fithra menjelaskan kemungkinan Indonesia memasuki zona resesi sangat kecil.
“Apakah kita bisa memasuki masa resesi berikutnya? Bisa saja, tetapi dalam konteks sekarang, (pertumbuhan ekonomi) 5,44 persen. Untuk jatuh negatif itu butuh suatu usaha yang sangat signifikan," kata dia.
Pernyataannya merujuk kicauan Managing Director IMF, Kristalina Georgieva lewat postingan twitter pribadi pada 11 Oktober 2022. "Indonesia remains a bright spot in a worsening global economy!" cuit Georgieva.
Cuitan ini, katanya, menjadi bukti perekonomian Indonesia sangat menjanjikan di tengah buruknya perekonomian global.
"Saya melihat data-data yang ada dalam setahun terakhir ini menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia jauh dari resesi," ucap Alex Datuk.
Jadi, meski inflasi Indonesia mengalami kenaikan, Alex menyebutkan tingkat inflasi tersebut masih relatif lebih rendah dibandingkan dengan banyak negara lainnya.
“Kita lalu lihat neraca perdagangan yang sudah persistent (bertahan) surplus selama 29 bulan berturut. Hal ini merupakan salah satu indikator kesehatan ekonomi," ungkap Alex.
BPS telah merilis surplus neraca perdagangan Indonesia pada September 2022 mencapai 4,99 miliar dolar AS dengan kontribusi sektor nonmigas senilai 7,09 miliar dolar AS.
“Data perekonomian Indonesia tidak menunjukkan tren resesi, sehingga probabilitas resesi itu kecil. Kalau di negara-negara yang sekarang diprediksi bakal mengalami resesi, trennya data nya sudah menunjuk kearah tersebut, seperti diantaranya inflasi terlalu tinggi, krisis energi atau pangan, itu semua menjadi salah satu indikator. Tapi saya tidak melihat itu di Indonesia," tuturnya.
Editor: Aditya Pratama