Ekspor Minyak Iran Tembus Level Tertinggi
Kpler, sebuah perusahaan intelijen data, menyebut ekspor minyak mentah Iran sebanyak 1,23 juta bph pada November, tertinggi sejak Agustus 2022 dan hampir setara dengan April 2019 sebesar 1,27 juta bph, meskipun turun sedikit di bawah 1 juta bph pada Desember.
Kementerian Perminyakan Iran tidak menanggapi permintaan komentar tentang ekspor. Adapun rancangan anggaran negara Iran didasarkan pada pengiriman yang lebih tinggi, yaitu 1,4 juta bph.
Sementara itu, China adalah pelanggan terbesar Iran. Untuk menghindari sanksi, sebagian besar ekspor minyak mentah Iran ke China diganti namanya menjadi minyak mentah dari negara lain, menurut analis termasuk FGE.
Iran pernah menyatakan, dokumen dipalsukan untuk menyembunyikan asal kargo Iran. Iran tahun lalu juga memperluas perannya di Venezuela, meski di bawah sanksi AS.
Tidak ada angka pasti untuk ekspor minyak Iran. Perusahaan pelacak kapal tanker menggunakan berbagai metode untuk melacaknya, termasuk data satelit, data pemuatan pelabuhan, dan kecerdasan manusia. Iran umumnya tidak merilis angka.
Menurut analis lain, Vortexa, impor minyak Iran China pada Desember mencapai rekor baru 1,2 juta bph, naik 130 persen dari tahun sebelumnya.
"Sebagian besar pengiriman ini sampai di Shandong, di mana kilang independen telah beralih ke nilai diskon sejak paruh kedua tahun 2022 di tengah permintaan domestik yang lesu dan margin penyulingan yang tertekan," kata perusahaan itu.
Departemen pers Kementerian Luar Negeri China mengatakan, "Kerja sama yang sah dan masuk akal antara China dan Iran di bawah kerangka hukum internasional patut dihormati dan dilindungi."
Kesepakatan nuklir yang dihidupkan kembali akan memungkinkan Iran meningkatkan penjualan ke bekas pembeli seperti Korea Selatan dan Eropa. Namun, pembicaraan telah menemui jalan buntu sejak September, dan utusan khusus Washington untuk Iran mengatakan pada November lalu, tindakan keras Iran terhadap pengunjuk rasa antipemerintah dan penjualan drone ke Rusia telah mengalihkan fokus Washington dari kesepakatan itu.
Editor: Jujuk Ernawati