Fenomena Startup Ramai-ramai PHK Karyawan, Pengamat: Perusahaan Mulai Fokus Cari Untung

Iqbal Dwi Purnama · Selasa, 31 Mei 2022 - 15:59:00 WIB
Fenomena Startup Ramai-ramai PHK Karyawan, Pengamat: Perusahaan Mulai Fokus Cari Untung
Sejumlah startup ramai-ramai melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan. (Foto: Ist)

JAKARTA, iNews.id - Fenomena perusahaan rintisan (startup) melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) karyawan yang marak akhir-akhir ini, dinilai sebagai bentuk rasionalisasi. Dengan kata lain startup mulai fokus mencari untung.

Praktisi dan konsultan marketing dari Inventure, Yuswohady, mengatakan startup merupakan perusahaan yang bisa dikatakan tidak natural perkembangannya. Sebab, umumnya startup berkembang dengan sangat cepat karena mengandalkan suntikan dana investor.

"Namanya sesuatu dipercepat maka risikonya juga besar, makanya stratrup proses membesarnya cepat sekali melalui suntikan dana yang begitu besar, sampai bakar duit untuk mengumpulkan customer. Itu sebetulnya tidak natural malah terkesan di paksakan, tetapi bukan berarti tidak ada yang tidak berasil, karena banyak juga," ujar Yuswohady, kepada MNC Portal, Selasa (31/5/2022).

Dia menjelaskan, ketika suntikan dana itu tidak selancar sebelumnya, maka startup mulai melakukan rasionalisasi atau dengan kata lain perusahaan rintisan mulai fokus mencari keuntungan operasional.

"Karena sebelumnya mereka orientasinya growth untuk mencapai valuasi, terus nanti IPO, orientasinya banyak seperti itu," kata Yuswohady.

Cara untuk mengumpulkan growth itu salah satunya adalah dengan mengumpulkan customer sebanyak-banyak dengan memberikan banyak promo-promo menarik.

Seperti diketahui fenomena PHK karyawan startup belakangan banyak mencuat, misalnya seperti Startup di bidang edukasi seperti Zenius, dompet digital LinkAja, maupun platform dagang online seperti JD.ID.

Zenius mengumumkan adanya PHK terhadap 25 persen karyawannya atau lebih dari 200 karyawan. Sementara LinkAja mengungkapkan tengah melakukan reorganisasi yang berdampak pada PHK sejumlah karyawan. Meski begitu, mereka memastikan jumlah yang direorganisasi kurang dari 200 karyawan.

Editor : Jeanny Aipassa

Follow Berita iNews di Google News

Bagikan Artikel:




Lokasi Tidak Terdeteksi

Aktifkan untuk mendapatkan berita di sekitar Anda