Harga BBM Pertamax Naik, Ini Tanggapan Istana
Sementara Wakil Ketua Komisi VI DPR, Inas Nasrullah menilai, Pertamina tidak perlu melakukan sosialisasi dari jauh-jauh hari sebelum menaikkan harga BBM nonsubsidi. Menurut dia, tidak ada aturan bagi Pertamina untuk melakukan hal tersebut karena Pertamax merupakan BBM komersial yang tidak diatur oleh pemerintah.
Politikus Partai Hanura itu mengatakan, keputusan BUMN migas tersebut wajar karena minyak mentah dunia terus naik. Belum lagi kurs rupiah yang terus melemah terhadap dolar AS karena Pertamina membeli minyak dengan dolar AS.
“Yang dikontrol oleh negara hanya Premium, baik itu BBM penugasan maupun BBM Jamali (Jawa, Bali, Madura), semuanya dikontrol oleh negara melalui Pertamina, tapi di luar itu boleh dong memiliki produk di luar Premium,” ucapnya.
Selain itu, Inas juga mendorong kepada konsumen untuk tidak beralih menggunakan Premium meski harga Pertamax mahal. Menurutnya, kualitas Premium lebih rendah dibanding Pertamax.
Pengamat energi, Ferdinand Hutahean memprediksi adanya migrasi penggunaan Pertamax ke Pertalite atau Premium akibat naiknya harga BBM beroktan 95 itu. Dia menyebut, hal ini justru akan memberatkan Pertamina karena harga Premium dan Pertalite tetap. “Saya melihat kenaikan Pertamax naik Rp600 itu angka yang cukup tinggi dan signifikan,” katanya.
Editor: Rahmat Fiansyah