Harga Daging Ayam di Asia hingga Amerika Naik, Ini Penyebabnya
MANHATTAN, iNews.id - Harga daging ayam di sejumlah negara di Asia hingga Amerika lebih mahal dari sebelumnya. Meski bukan satu-satunya produk makanan yang mengalami lonjakan harga, namun akan membebani masyarakat lantaran ayam menjadi daging yang paling banyak dikonsumsi di dunia.
Ayam utuh eceran di AS berharga 1,79 dolar AS per pon pada April, harga tertinggi dalam rekor 15 tahun dan sekitar 19 persen lebih tinggi dari rata-rata 10 tahun terakhir. Di Thailand, eksportir terbesar keempat setelah AS, Brasil, dan Uni Eropa, pada beberapa waktu lalu menjual 1,82 dolar AS per kilogram (kg), naik sepertiga dalam enam bulan.
Sementara ayam beku grosir di Brasil dijual seharga 2,12 dolar AS per kg pada 19 Mei 2020. Harga tersebut lebih dari dua kali lipat harga rata-rata dalam 10 tahun.
Ada sejumlah faktor yang menyebabkan harga daging ayam tersebut menjadi naik. Dikutip dari Bloomberg, faktor penyebabnya, yakni:
Perang Rusia-Ukrainan telah mengganggu eksor unggasnya ke negara-negara di Eropa dan Timur Tengah. Selain itu, juga berdampak pada harga biji-bijian, terutama jagung dan gandum yang merupakan komponen pakan ayam, di mana Ukraina adalah produsen utama dua komoditas tersebut.
Dengan terputusnya sumber utama pasokan global, menyebabkan harga ayam melonjak. Di Inggris, harga ayam melonjak 8 persen dibanding akhir tahun lalu. Meningkatnya biaya energi dan transportasi semakin memperumit masalah.
Kelompok produsen pakan ternak FEFAC memprediksi produksi pakan ternak di Uni Eropa menyusut pada tahun ini, dengan output pakan ayam terlihat turun sebanyak 3 persen.
Flu burung, yang dapat menghancurkan ternak ayam, telah berdampak besar pada hasil peternakan di seluruh dunia. Peternak yang berjuang untuk menghentikan penyebaran flu burung terpaksa melakukan pemusnahan massal.
Di AS saja, lebih dari 38 juta ayam dan kalkun telah dimusnahkan sejak awal Februari. Inggris menghadapi wabah flu burung terbesar yang pernah terjadi pada Oktober lalu. Di Prancis, satu dari 20 burung telah dimusnahkan.
Malaysia berencana melarang ekspor 3,6 juta ayam per bulan mulai 1 Juni mendatang. Pertimbangan utama mereka adalah mengamankan pasokan lokal dan membatasi lonjakan biaya pangan, dengan harga pangan mencapai level tertinggi sejak 2017 hingga April 2022.
Sebelum memberlakukan larangan ekspor, pemerintah Malaysia mencoba beberapa cara untuk mengendalikan harga ayam, termasuk memberlakukan harga pagu pada Februari, menjanjikan subsidi sekitar 730 juta ringgit atau 167 juta dolar AS untuk membantu meringankan beban produsen makanan yang bergulat dengan biaya yang lebih tinggi, dan menghapuskan persyaratan izin yang disetujui untuk impor unggas dan gandum.
Namun sejauh ini hanya 50 juta ringgit subsidi yang telah dibetikan kepada peternak ayam, terutama kepada peternak kecil. Perdana Menteri Ismail Sabri Yaakob mengatakan, beberapa perusahaan besar tidak tertarik dengan subsidi dan ingin harga ditentukan oleh pasar.
Pada saat yang sama, Komisi Persaingan Malaysia sedang menyelidiki laporan ada kartel yang mengendalikan harga dan produksi ayam di antara perusahaan-perusahaan besar. Ismail menyatakan akan menindak mereka menyabotase pasokan. Penyelidikan ini diharapkan selesai pada akhir Juni.
Pemerintah Malaysia juga telah mendeklarasikan “jihad” terhadap perantara yang memanipulasi pasokan dan harga. Kabinet Malaysia akan membahas proposal ketahanan pangan pada 30 Mei.
Editor: Jujuk Ernawati