Harga Minyak Dunia Capai Level Terendah sejak Invasi Rusia ke Ukraina, Ini Pemicunya

Jeanny Aipassa ยท Selasa, 16 Agustus 2022 - 10:01:00 WIB
Harga Minyak Dunia Capai Level Terendah sejak Invasi Rusia ke Ukraina, Ini Pemicunya
Ilustrasi harga minyak dunia. (Foto: Istimewa)

LONDON, iNews.id - Harga minyak dunia turun hingga mencapai level terendah sejak invasi Rusia ke Ukraina, pada perdagangan Senin (15/6/2022).  Satu barel minyak mentah Brent turun sekitar 5 persen menjadi di bawah 94 dolar Amerika Serikat (AS). 

Melemahnya harga minyak dunia dipicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap data pertumbuhan ekonomi China yang melemah, akibat lockdown Covid-19 berulang yang telah membuat penurunan tajam pada sektor properti dan manufaktur.

Harga minyak dunia telah turun dari level tertinggi 140 dolar AS pada Maret 2022, ketika kekhawatiran atas pasokan dari Rusia mencapai puncaknya. Meski demikian, harga minyak dunia secara historis masih tinggi karena perang di Ukraina berlanjut, hampir 50 persen di atas level yang terlihat pada akhir 2019.

Reaksi pelaku pasar datang setelah Bank Sentral China secara tak terduga memangkas suku bunga fasilitas pinjaman utamanya untuk kedua kalinya tahun ini, menyusul data pertumbuhan ekonomi yang melambat.

Output pabrik di sektor industri negara itu tumbuh sebesar 3,8 persen pada Juli dari tahun sebelumnya, di bawah perkiraan analis untuk pertumbuhan 4,6 persen dalam jajak pendapat Reuters. 

Penjualan ritel naik 2,7 persen dari tahun lalu, sekali lagi jauh di bawah ekspektasi, karena pemulihan ekonomi China dari penguncian pandemi awal tahun ini menunjukkan tanda-tanda gagal.

Bjarne Schieldrop, kepala analis komoditas di bank Swedia SEB, mengatakan jelas bahwa melemahnya permintaan minyak China adalah salah satu alasan utama mengapa harga minyak turun kembali sejak awal Juni.

“Ada sedikit harapan bahwa China akan mengubah sikapnya terhadap Covid-19 dalam waktu dekat dan ada risiko tinggi bahwa pelemahan permintaan China berlanjut di tengah penguncian yang terus bergulir dari bulan ke bulan,” kata Bjarne Schieldrop, seperti dikutip The Guardian, Selasa (16/8/2022). 

Ekonomi China nyaris lolos dari kontraksi pada kuartal kedua, tertatih-tatih oleh penguncian pusat komersial Shanghai dan penurunan yang semakin dalam di pasar properti, serta tingkat belanja konsumen yang terus melemah.

Sektor properti China juga melemah pada Juli 2022, akibat diguncang oleh boikot hipotek karena ribuan pembeli rumah menolak untuk mengikuti pembayaran atas rencana pembelian apartemen yang belum selesai. 

“Kami pikir prospek akan tetap menantang dalam beberapa bulan mendatang karena ekspor berubah dari penarik menjadi angin sakal, penurunan properti semakin dalam, dan gangguan virus tetap menjadi hambatan berulang,” kata Julian Evans-Pritchard, ekonom senior China di konsultan Capital Economics. 

Sebagai salah satu konsumen energi terbesar di dunia, pertumbuhan ekonomi China yang lebih lemah akan menurunkan permintaan minyak mentah dan sumber daya alam lainnya. 

Pialang juga mengincar potensi kesepakatan nuklir antara Iran dan negosiator barat yang dapat membuka jalan bagi peningkatan pasokan minyak.

Melonjaknya harga energi telah menjadi pendorong terbesar inflasi tinggi di Inggris dan negara-negara maju lainnya di tengah memburuknya krisis biaya hidup.

Editor : Jeanny Aipassa

Follow Berita iNews di Google News

Bagikan Artikel:




Lokasi Tidak Terdeteksi

Aktifkan untuk mendapatkan berita di sekitar Anda