Harga Sewa Pesawat Termahal di Dunia, Dirut Garuda: Permasalahan Utama di Besaran Bunga

Suparjo Ramalan · Jumat, 12 November 2021 - 20:44:00 WIB
Harga Sewa Pesawat Termahal di Dunia, Dirut Garuda: Permasalahan Utama di Besaran Bunga
Pesawat Garuda Indonesia. (Foto: dok iNews)

JAKARTA, iNews.id - Direktur Utama (Dirut) PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, Irfan Setiaputra, membongkar permasalahan utama harga sewa pesawat perseroan yang mahal terletak pada besaran bunga yang dibebankan. 

Menurut dia, sejak awal bergabung di Garuda Indonesia, masalah bunga yang tinggi telah mendapat sorotan manajemen dan langsung didiskusikan dengan lessor atau perusahaan penyewa pesawat. 

Meski begitu, lanjut Irfan, lessor berkeras mematok bunga sewa pesawat Garuda Indonesia hingga mencapai 24,7 persen atau empat kali lipat paling tinggi di dunia.

"Dari awal kami bergabung dan melihat, di hari pertama juga kami melihat ini ada problem (sewa pesawat) ini harus dibicarakan. Karena ini very serious karena kita nomor satu paling tinggi," ujar Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra, Jumat (12/11/2021). 

Dirut Garuda Indonesia mengungkapkan, di awal pembicaraan kedua pihak, perusahaan penyewa justru mempertegas patokan bunga sewa yang diberikan kepada maskapai penerbangan pelat merah itu. Dimana, bunga yang diberikan untuk memperoleh keuntungan bisnis. 

"Memang pertanyaan atau diskusi atau tanya jawab yang kami lakukan, mereka (lessor) mengatakan kalau orang lain jual Harvard Rp 1 miliar dan Anda jual Rp2 miliar, ya pantas dong saya sewa ke Anda 2 kali lipat," ungkap Irfan. 

Dia menjelaskan, sejak 2012-2014 masing-masing pesawat yang sudah disewakan lessor tidak dikenakan bunga. Emiten dengan kode saham GIAA justru membayar sewa bulanan dengan jangka waktu sewa selama 8-12 tahun lamanya. 

Irfan enggan merinci secara pasti waktu pemberlakuan bunga sewa pesawat sebesar 24,7 persen yang ditetapkan lessor. Menurutnya, pada 2020 tunggakan manajemen kepada lessor mencapai 854 juta dolar AS atau setara Rp12,1 triliun. Nilai itu merupakan harga sewa dan di luar bunga sewa.

"Yang sebenarnya utang yang belum dibayar itu 854 juta dolar AS. Ini dari sewa pesawat yang kami tidak bayar," kat Irfan. 

Meski tak membayar tunggakan, Irfan dan timnya tak kehilangan akal. Pada Januari 2021 lalu, mereka berhasil bernegosiasi dengan sejumlah lessor untuk menurunkan harga sewa pesawat, tetapi lagi dan lagi tidak dibayarkan. 

"Kita sempat melakukan negosiasi terhadap sewa pesawat, jadi ada penumpang sekitar 20-30 persen. Di JAnuari 2021, sudah turun harga sewa pesawatnya, tetap tidak kita bayar sewa pesawat sampai sekarang," tutur Irfan. 

Editor : Jeanny Aipassa

Bagikan Artikel: