Indahnya Transformasi ala Rudolf Tjandra
Setelah SDM, isu yang bisa dievaluasi yaitu brand. Dia menyebut, brand kerapkali tak nyambung antara apa yang ditawarkan di depan (konsumen) dengan pengerjaan di belakang (operasional). Brand, kata dia, bukan soal nama, melainkan bagaimana dia bisa terkoneksi dengan psikologi konsumen.
"Jika sebuah brand -atau bisnis- kehilangan nilainya di mata konsumen, nilai tersebut perlu digali kembali, dan nilai (brand) bisa diperkuat secara regional, nasional, atau internasional," ujarnya.
Masalah brand, menurut dia, seringkali terkait operasional. Brand yang bagus butuh operasional belakang layar yang bagus juga, sehingga nilai brand dari produk bisa sampai kepada konsumen.
Namun, dia menilai untuk memperkuat operasional, misalnya ekspansi butuh dana yang besar.
"Semua bisnis yang sukses tentu membutuhkan produksi, sumber daya, dan pembiayaan untuk memenuhi visi. Tugas Anda adalah mengembangkan operasional sesuai dengan peluang yang ada," tulisnya.