Inggris Diprediksi Masuki Resesi Teknis pada Kuartal IV 2022

Jeanny Aipassa · Sabtu, 01 Oktober 2022 - 07:15:00 WIB
Inggris Diprediksi Masuki Resesi Teknis pada Kuartal IV 2022
Istana Buckingham, Inggris. (Foto: Reuters)

LONDON, iNews.id - Lembaga pemeringkat Standard & Poor's (S&P) memprediksi Inggris akan memasuki resesi teknis di kuartal IV 2022. Selain itu, pendapatan domestik bruto (PDB) Inggris juga diperkirakan menyusut 0,5 persen pada 2023.

S&P juga memangkas prospek peringkat AA untuk utang negara Inggris menjadi "negatif" dari "stabil". Peringkat tersebut lebih tinggi dari yang ditetapkan lembaga pemeringkat Moody's dan Fitch. 

Hal itu, disebabkan S&P menilai rencana pemotongan pajak yang dilakukan pemerintah akan memicu peningkatan utang, di tengah resesi dan melemahnya pertumbuhan ekonomi. 

"Perkiraan fiskal kami yang diperbarui tunduk pada risiko tambahan, misalnya jika pertumbuhan ekonomi Inggris ternyata lebih lemah karena memburuknya lingkungan ekonomi lebih lanjut, atau jika biaya pinjaman pemerintah meningkat lebih dari yang diharapkan, didorong oleh kekuatan pasar dan pengetatan kebijakan moneter," bunyi pernyataan S&P, seperti dikutip Reuters, Jumat (30/9/2022). 

Menteri Keuangan Inggris, Kwasi Kwarteng, telah mengumumkan pemotongan pajak permanen yang tidak didanai sekitar 45 miliar pound (50 miliar dolar AS) pada 23 September 2022, serta subsidi sementara yang mahal untuk tagihan energi rumah tangga dan bisnis. 

Hal itu, membuat pasar poundsterling dan obligasi pemerintah Inggris menjadi kacau balau. Meskipun Poundsterling telah berangsur pulih, Bank of England terpaksa meluncurkan program pembelian obligasi darurat pada Rabu (28/9/2022) untuk menstabilkan pasar dan telah memperingatkan mungkin perlu menaikkan suku bunga secara signifikan pada November 2022.

Reuters melaporkan, menyikapi gejolak di pasar keuangan Inggris, perdana Menteri Inggris, Liz Truss, mengadakan pertemuan terbatas dengan Menkeu Kwasi Kwarteng, dan pejabat tinggi dari Kantor Tanggung Jawab Anggaran Inggris, pada  Jumat (20/9/2022). 

Pemerintah Inggris telah mengatakan bahwa pemotongan pajak dan reformasi struktural jangka panjang untuk bidang-bidang seperti imigrasi dan izin perencanaan harus mendorong pertumbuhan. 

Namun S&P menilai manfaatnya kemungkinan kecil, terutama dalam jangka pendek. "Untuk saat ini tidak jelas apakah pemerintah berencana untuk akhirnya memperkenalkan langkah-langkah konsolidasi fiskal untuk membawa utang kembali ke jalur menurun dan kami berasumsi bahwa paket tersebut akan didanai oleh utang," bunyi pernyataan S&P.

Lembaga pemeringkat itu juga memperkirakan pinjaman publik Inggris kemungkinan akan mencapai rata-rata 5,5 persen dari PDB per tahun dari tahun 2023 hingga 2025, dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya sebesar 3 persen, sementara utang pemerintah secara umum akan naik menjadi 97 persen dari PDB pada tahun 2025. 

Editor : Jeanny Aipassa

Bagikan Artikel:







Lokasi Tidak Terdeteksi

Aktifkan untuk mendapatkan berita di sekitar Anda