Jadi Tersangka Kasus Jiwasraya, Ini Profil Benny Tjokro Bos Hanson Pewaris Batik Keris

Rahmat Fiansyah ยท Selasa, 14 Januari 2020 - 18:25 WIB
Jadi Tersangka Kasus Jiwasraya, Ini Profil Benny Tjokro Bos Hanson Pewaris Batik Keris

Direktur Utama PT Hanson International Tbk, Benny Tjokrosaputro. (Foto: Sindo)

JAKARTA, iNews.id - Direktur Utama PT Hanson International Tbk, Benny Tjokrosaputro ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi di PT Asuransi Jiwasraya (Persero). Dia diduga terlibat dalam aksi perusahaan asuransi pelat merah itu menggoreng saham-saham berkualitas rendah.

Nama Benny Tjokro tidak asing di kalangan investor saham. Dia dikenal sangat berpengalaman di pasar modal karena telah berkecimpung sejak akhir 1980-an. Saat itu, dia masih kuliah di Universitas Trisakti Jakarta dan gemar membeli saham-saham IPO.

Benny Tjokro kerap sebut sebagai 'market maker' alias bandar besar saham. Namanya pertama kali dikenal saat diduga 'menggoreng saham' PT Bank Pikko Tbk pada 1997 bersama teman-temannya. Saat itu, BEI memberi sanksi kepada Benny dkk untuk mengembalikan hasil keuntungan penjualan saham tersebut ke kas negara sebesar Rp1,5 miliar.

Handoko Tjokrosapoetro, ayah Benny, saat tak sreg dengan keputusan anaknya bermain di pasar saham. Handoko adalah putra Handianto Tjokrosaputra, pemilik Batik Keris Solo yang melegenda sejak 1920.

Benny beberapa kali ditugasi ayahnya untuk mengurus bisnis keluarga, termasuk Keris Gallery. Dia juga sempat diminta untuk mengurusi soal tanah karena keluarganya berbisnis properti. Upaya mengalihkan perhatian Benny gagal, karena dia tak meninggalkan aktivitas bermain saham.

Pada 31 Oktober 1990, Hanson International yang merupakan perusahaan manufaktur tekstil IPO di Bursa Efek indonesia (BEI). Sejak saat itu, perusahaan yang didirikan pada 1971 ini kerap beralih bisnis, termasuk masuk ke sektor tambang dan energi pada 2008.

Pada 2013, Hanson fokus di bidang properti dengan banyak membeli bank tanah (landbank) di Tangerang, Bogor, Lebak, dan Rangkasbitung. Saat ini, Hanson fokus mengembangkan kota di Maja dan Serpong.

Pada Oktober 2019, Benny Tjokro yang menduduki posisi komisaris utama Hanson harus 'turun gunung' menjadi dirut. Keputusan tersebut diambil setelah Hanson melanggar aturan karena melakukan pengumpulan dana masyarakat yang seharusnya hanya boleh dilakukan lembaga keuangan.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta Hanson untuk melunasi dana nasabah paling lambat akhir 2020. Namun, dana itu sebagian besar dibelikan untuk membeli lahan sehingga arus kas perseroan tidak cukup untuk melunasi dana nasabah.

Belum selesai krisis tersebut, Benny Tjokro kini tersangkut kasus Jiwasraya. Kejaksaan Agung menetapkan Benny sebagai tersangka. Dia ditahan hingga 20 hari ke depan untuk kepentingan penyidikan.


Editor : Rahmat Fiansyah