Jokowi Senang 98 Persen Pekerja Freeport Orang Indonesia

Mochamad Rizky Fauzan · Kamis, 06 Oktober 2022 - 13:13:00 WIB
Jokowi Senang 98 Persen Pekerja Freeport Orang Indonesia
Presiden Joko Widodo saat mengunjungi Freeport beberapa waktu lalu. Foto: YouTube Sekretariat Presiden

JAKARTA, iNews.id - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan rasa senang kepada manajemen PT Freeport Indonesia (PTFI) karena 98 persen pekerja di salah satu tambang terbesar dunia itu adalah orang Indonesia.

Hal itu, diungkapkan Chairman of The Board & CEO Freeport-McMoRan, Richard C. Adkerson, dalam orasi ilmiah di Universitas Gajah Mada (UGM), dikutip Kamis (6/10/2022).

Dia mengatakan, pada tahun 2005, tambang Freeport di Papua memiliki 19.805 pekerja dengan 14.568 di antaranya adalah orang Indonesia dan 4.734 di antaranya adalah warga asli Papua. Angka ini meningkat di tahun 2021 dengan 21.496 orang Indonesia dan 7056 warga asli Papua.

Berdasarkan data ini, Presiden Jokowi sangat senang saat pertama kali mendatangi smelter Freeport di Papua beberapa waktu yang lalu. "Presiden Joko Widodo senang melihat ini, karena 98 persen pekerja kami adalah orang Indonesia. Dan lebih dari 40 persen adalah orang Papua. Bahkan kita punya 2 manajer Papua yang hadir saat ini. Jadi saya ingin kalian semua paham kalau PTFI ini adalah perusahaan milik Indonesia," tutur Richard.

Menurut dia, petinggi dari Freeport memang didominasi orang Indonesia dan Papua. Seperti posisi Presiden Direktur yang dipercayakan kepada Tony Wenas. Freeport juga mempercayakan 1 posisi direktur, 9 Senior dan Vice President, dan 57 manajer serta posisi senior dari Papua.

"Freeport juga berada di bawah hukum dari Indonesia, dan kita melakukan joint venture dengan perusahaan dari Amerika Serikat untuk memberikan teknologi," ungkap Richard.

Dia menjelaskan, saat pertama kali datang ke tambang emas di Papua, pekerja yang ada di Freeport kebanyakan tidak ada orang Indonesia. Dirinya pun harus pergi ke Filipina untuk mencari pekerja tambang bawah tanah. "Operasi (tambang) dulu dijalankan oleh orang asing, hanya ada sedikit orang Papua yang bekerja di Freeport," kata Richard 

Saat ini, lanjutnya, para pekerja di Freeport pun sudah didominasi oleh orang Indonesia. Hal ini juga terlihat dari grafik pekerja Indonesia dan warga asli Papua yang meningkat dari tahun ke tahun.

Richard juga menuturkan tambang tembaga milik PTFI dulunya sempat diragukan. Bahkan saat pertama kali ditemukan, disebutkan jika tambang tembaga di Papua ini tidak bisa dikembangkan.

"Saat (tembaga) pertama kali ditemukan tahun 1936 oleh geologis asal Belanda yang melakukan ekspedisi ke Puncak Jaya, mereka bilang apa? Mereka bilang tambang ini harusnya ada di bulan karena nggak ada yang bisa mengembangkan," ujar Richard.

Walau begitu, kini tambang milik Freeport menjadi salah satu tambang terbesar di dunia. Bahkan cadangan yang dimiliki oleh tambang ini disebut-sebut bisa bertahan hingga tahun 2052.

Sebagaimana diketahui, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengenang momentum pengambilalihan PT Freeport Indonesia (PTFI) pada 2019 lalu. Saat itu, Jokowi memberikan syarat agar Freeport dapat memperpanjang masa operasinya di Tanah Air.

Syarat tersebut adalah membangun smelter atau pabrik pengolahan. Sebab, Jokowi mengaku sulit meminta Freeport untuk membangun smelter yang sudah diminta sejak 2014 silam.

"Dulu sulit menyuruh Freeport membuat smelter. Mundur-mundur saja. Ini (operasi) diperpanjang baru buat smelter (kata Freeport). Ndak-ndak kamu buat smelter, kita perpanjang," kata Presiden Jokowi.

Editor : Jeanny Aipassa

Follow Berita iNews di Google News

Bagikan Artikel:




Lokasi Tidak Terdeteksi

Aktifkan untuk mendapatkan berita di sekitar Anda