Jutaan Rokok Ilegal Disita, Kerugian Negara Capai Rp5,1 Miliar

Avirista Midaada ยท Rabu, 15 September 2021 - 15:30:00 WIB
 Jutaan Rokok Ilegal Disita, Kerugian Negara Capai Rp5,1 Miliar
Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Cukai Malang mengadakan operasi gabungan untuk penindakan rokok ilegal, di sejumlah toko, warung makan, dan pasar tradisional di Kota Malang, Rabu (15/9/2021). (Foto: Istimewa)

MALANG, iNews.id - Kantor Pengawasan dan Pelayanan (KPP) Bea dan Cukai Tipe Madya Cukai Malang (Bea Cukai Malang) telah menyita 10.790.400 batang rokok ilegal dengan nilai kerugian negara mencapai Rp5,155 miliar. Jutaan rokok ilegal tersebut, disita dalam kurun waktu Januari-Agustus 2022. 

Pejabat Fungsional Pemeriksa Bea Cukai Ahli Pertama KPP Bea Cukai Malang, Krisno Budi Bagus Sasmito, mengatakan angka tersebut tergolong cukup tinggi dan hampir mendekati jumlah rokok ilegal yang disita KPP Bea Cukai Malang sepanjang 2020. 

Pada 2020, KPP Bea Cukai Malang tercatat menyita 11.808.340 batang rokok ilegal di tiga wilayah Malang raya, dengan kerugian Rp 5,882 miliar. Sementara pada 2019, terdapat 10.063.940 batang rokok ilegal yang diamankan, dengan jumlah kerugian negara mencapai Rp4,809 miliar. 

Menurut dia, dari penyitaan rokok ilegal di tiga wilayah hukum Kabupaten Malang, kasus yang paling menonjol adanya peredaran rokok ilegal tanpa cukai.

"Kalau bicara perbandingan dua wilayah tersebut (kota dan kabupaten Malang), ya di kabupaten. Kalau kota cenderung minim atau jarang," kata Krisno, pada Rabu siang (15/9/2021) di kantor KPP Bea Cukai Malang. 

Dia mengungkapkan, dari operasi penindakan yang tetap dilakukan sepanjang masa pandemi, masyarakat mulai sadar terhadap dampak kerugian dari peredaran rokok ilegal tanpa cukai. 

Hal ini terlihat dari semakin berkurangnya toko, dan pabrik rumahan yang kerap kali menyimpan dan memproduksi rokok ilegal tanpa cukai, dan pengenalan masyarakat terkait rokok putih atau polos. 

"Kebetulan dalapm operasi penindakan pagi ini, tidak ditemukan indikasi pelanggaran. Sekaligus kita lakukan sosialisasi pada saat yang sama. Kita kasih pengertian tentang rokok ilegal. Mereka tahunya rokok ilegal polos. Jadi kita tadi tidak menemukan dan kita menyosialisasikan rokok polos dan sebenarnya rata-rata mereka sudah memahami rokok ilegal, atau rokok polos itu," tutur Krisno. 

Krisno menambahkan, peredaran rokok ilegal di Kota Malang cenderung minim. Sebaliknya, tim operasi gabungan kerap menemukan peredaran rokok ilegal di daerah-daerah pinggiran. 

"Biasanya kalau kita lihat pemetaan jejak rawan peredaran rokok ilegal itu, agak minggir-minggir. Kalau pun di Kota, di toko kecil yang ada di gang-gang," ungkap Krisno.

Editor : Jeanny Aipassa