Kantongi Rp7 Juta Sebulan, Pria Ini Betah Jadi Ojek Online Sejak 2010
Dalam perjalanannya, setiap aplikator ojek online seringkali mengganti kebijakan tarif per kilometernya dan memberikan berbagai promo serta diskon untuk para pengemudi. Hal ini sebagai cara agar bisa menjaring banyak penumpang.
Kendati demikian, selama hampir delapan tahun menjadi mitra Go-Jek, dia merasa tidak dirugikan dengan kebijakan tersebut. Pasalnya, meski tarif diturunkan namun tetap bisa mendapatkan bonus dari tutup poin.
"Saya nyaman saja nikmatin, tidak ada penurunan pendapatan. Kalau tarif turun iya, kalau bonus kan tidak, bonusnya tetap Rp200.000," kata dia.
Selain bonus, perusahaan juga memberikan layanan BPJS Ketenagakerjaan dan asuransi kesehatan bagi para pengemudinya. Kemudian, pengemudi juga dibekali oleh jaket dan helm khusus sebagai penunjang keselamatan.
"Asuransi kita untuk di jalan ada BPJS Ketenagakerjaan, kalau asuransi kesehatan dari Allianz," ucapnya.
Pria berusia 52 tahun ini sebelum menjadi pengemudi ojek online rupanya berprofesi sebagai ojek pangkalan selama tujuh tahun. Kemudian, dia ditawarkan dan resmi bergabung dengan Go-Jek pada 20 Agustus 2010 hingga saat ini.
"Sampai sekarang masih ada teman-teman di opang belum ikut Go-Jek. Sering saya ajak tapi mereka alasannya itu karena pendidikan, di Go-Jek minimal sekolah SMP tapi sekarang sepertinya tidak ada batasan," tuturnya.
Editor: Ranto Rajagukguk