KBI Catat 9,27 Juta Lot Transaksi, Pasar Fisik Timah Tumbuh 17,68 Persen
JAKARTA, iNews.id - PT Kliring Berjangka Indonesia (Persero) atau KBI mencatat transaksi perdagangan berjangka komoditas (PBK) yang dikliringkan mencapai 9,27 juta lot hingga Oktober 2026. Jumlah tersebut meningkat 2,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pertumbuhan transaksi terutama terlihat pada segmen Loco dan Komoditi Sistem Perdagangan Alternatif (SPA) yang naik 12,7 persen. Sementara itu, transaksi pasar fisik timah dalam negeri tumbuh 17,68 persen secara tahunan.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko merangkap Plt Direktur Utama KBI, Adiyasa Suhadibroto, mengatakan peningkatan transaksi tersebut diikuti upaya perusahaan menjaga proses kliring dan penjaminan sesuai ketentuan.
“Kepercayaan pelaku pasar adalah amanah yang kami jaga setiap hari. Setiap transaksi yang kami kliringkan dan jamin berjalan sesuai ketentuan, tercatat dengan baik, dan dapat dipertanggungjawabkan. Bagi kami, transparansi dan akuntabilitas bukan sekadar komitmen, melainkan standar kerja,” ujar Adiyasa dalam keterangan tertulis, dikutip Minggu (8/11/2026).
Selain mencatat pertumbuhan transaksi, KBI juga terlibat dalam pengembangan Sistem Resi Gudang (SRG). Sepanjang Januari-Oktober 2026, jumlah pengelola gudang baru bertambah 10,6 persen.
Pengembangan SRG dilakukan bersama sejumlah pemangku kepentingan, termasuk Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pemerintah daerah, perbankan, dan pelaku usaha. Komoditas yang tercakup dalam ekosistem tersebut antara lain gula, kopi, tembakau, gabah, beras, dan rumput laut.
KBI juga mendukung peluncuran e-Seaweed Platform di Sulawesi Selatan pada 23-24 September 2026. Platform yang dikembangkan bersama International Labour Organization (ILO) dan Pemerintah Swiss melalui SECO itu mencatat aktivitas petani rumput laut secara digital, mulai dari proses budidaya hingga transaksi dan penyimpanan di gudang.
Data yang tercatat diharapkan dapat membantu petani mengakses pembiayaan melalui skema SRG. Sebagai Pusat Registrasi, KBI melakukan pencatatan dan verifikasi Resi Gudang melalui sistem IS-Ware Next Gen.
“Resi Gudang bukan sekadar instrumen penyimpanan, melainkan pintu bagi petani dan pelaku usaha komoditas untuk mengakses pembiayaan dan pasar yang lebih luas. Melalui pengembangan SRG dan pencatatan digital seperti e-Seaweed Platform, data komoditas menjadi lebih terverifikasi dan dapat menjadi fondasi kepercayaan bagi perbankan maupun pembeli,” kata Adiyasa.
Di luar bisnis kliring dan penjaminan, KBI juga menjalankan program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL). Salah satunya program Integrated Farming System (IFS) untuk mendorong kemandirian petani kedelai di Kabupaten Sukoharjo dan Klaten, Jawa Tengah.
Program yang dimulai pada 2023 itu kini memasuki Batch ke-4. Hingga saat ini, kegiatan tersebut melibatkan 73 petani dengan luas lahan produktif mencapai 10 hektare.
KBI juga menjalankan program reforestasi tanaman kopi di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Program ini menggabungkan pemulihan lahan kritis dengan pemberdayaan petani kopi setempat.
Editor: Rizky Agustian