Kemenperin Genjot Hilirisasi Produk Olahan Karet

Antara ยท Senin, 15 Juni 2020 - 05:05:00 WIB
Kemenperin Genjot Hilirisasi Produk Olahan Karet
Kemenperin mendorong industri pengolahan karet semakin produktif dan mampu mendiversifikasi produk guna memacu program hilirisasi. (Foto: Antara)

JAKARTA, iNews.id - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong industri pengolahan karet semakin produktif dan mampu mendiversifikasi produk guna memacu program hilirisasi serta memperdalam struktur sektor manufaktur dalam negeri. Terlebih, Indonesia merupakan salah satu produsen karet alam terbesar di dunia.

“Indonesia menempati peringkat kedua sebagai produsen karet alam terbesar di dunia. Ini merupakan potensi bagi kita untuk meningkatkan produktivitas sektor industri pengolahan karet nasional,” ujar Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangannya yang dilansir, Senin (15/6/2020).

Sektor industri pengolahan karet nasional berkontribusi cukup besar terhadap perolehan devisa, hingga menembus sebesar 3,42 miliar dolar AS pada 2019. Saat ini, terdapat 163 industri karet alam dengan serapan tenaga kerja langsung sebanyak 60.000 orang.

Sementara itu, produksi karet alam pada 2019 mencapai 3,3 juta ton, meliputi SIR (crumb rubber), lateks pekat, dan RSS (ribbed smoked sheet). Dari jumlah tersebut, 20 persen diolah di dalam negeri oleh industri hilir menjadi ban, vulkanisir, alas kaki, rubber articles, dan manufacture rubber goods (MRG) lainnya. Sementara 80 persen karet alam diekspor.

Menperin mengungkapkan, produksi karet alam baru memenuhi sekitar 55,4 persen dari kapasitas terpasang sektor tersebut, yang mencapai 5,9 juta ton. “Salah satunya dipengaruhi oleh harga karet alam dunia yang turun ke level terendah sejak 2011, yakni 1,36 dolar AS per kilogram sejak 24 Februari lalu,” ujar Menperin.

Salah satu penyebab rendahnya harga karet alam adalah kelebihan pasokan komoditas serta menurunnya permintaan di pasar global. “Kondisi ini berpengaruh pada kesejahteraan petani karet, menurunnya penghasilan bersih dari perusahaan karet dan menurunnya nilai ekspor,” katanya.

Editor : Dani M Dahwilani

Bagikan Artikel: