Kesepakatan KTT APEC Bangkok Dorong Industri Properti Terapkan Konsep Hijau

Jeanny Aipassa · Kamis, 24 November 2022 - 19:37:00 WIB
 Kesepakatan KTT APEC Bangkok Dorong Industri Properti Terapkan Konsep Hijau
Ilustrasi properti. (Foto: dok Dekoruma)

JAKARTA, iNews.id - Kesepakatan The Bangkok Goals for the Bio-Circular Green Economy dalam KTT APEC Bangkok semakin mendorong industri properti terpacu menerapkan konsep hijau. Pasalnya, hasil penelitian menunjukkan industri properti menjadi salah satu penyumbang emisi karbon terbesar.

The Bangkok Goals for the Bio-Circular Green Economy yang disepakati di KTT APEC Bangkok pekan lalu, merupakan kesepakatan bersama mengenai pemulihan ekonomi pasca pandemi yang inklusif dan berimbang, guna mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tangguh serta menjaga lingkungan hidup.

"Dengan demikian, kesepakatan The Bangkok Goals for the Bio-Circular Green Economy seharusnya mendorong pengembang di Tanah Air tak sekadar berpacu menyediakan hunian, namun turut serta memudahkan penghuni dalam menjalankan aktivitasnya secara efektif, efisien dan hemat energi,” kata CEO PT Lippo Karawaci Tbk  (LPKR), John Riady, di Jakarta, Kamis (24/11/2022).

Menurut dia, pentingnya keberlanjutan atau sustainability dalam menjalankan bisnis memang sudah harus diperhatikan oleh para pelaku bisnis yang memerhatikan 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) yang menjadi blueprint untuk mencapai masa depan lebih baik dan berkelanjutan pada tahun 2030.

“Dalam hal ini pengembang memiliki tanggungjawab yang tidak kecil mengingat studi yang telah banyak dilakukan menunjukkan industri properti ternyata tanpa disadari menjadi salah satu penyumbang emisi karbon terbesar,” ujar John.

Hasil penelitian Jones Lang LaSalle terhadap perusahaan finansial dan profesional dalam bidang real estate di 32 kota di dunia menemukan bahwa sektor real estate menyumbang rata-rata 60 persen dari keseluruhan emisi karbon.

Hal ini disebabkan bahan bangunan berupa beton yang dapat menghasilkan emisi karbondioksida terbesar ke-3 di dunia. Selain itu pada produksi semen memberikan pengaruh sebesar 7 persen terhadap karbon dioksida secara global, yang setara dengan tiga kali lipat emisi yang dihasilkan oleh industri penerbangan.

John menjelaskan, kesepakatan The Bangkok Goals for the Bio-Circular Green Economy dalam KTT APEC 2022 juga menunjukkan urgensi penerapan pemberian insentif bagi pengembang yang mewujudkan konsep green building. Insentif tersebut dilakukan secara fiskal maupun struktural.
 
Insentif fiskal diberikan melalui berbagai keringanan dalam pajak, bantuan tunai, dan pemberian subsidi. Insentif struktural diberikan melalui berbagai bantuan dalam bentuk bantuan marketing, label bangunan hijau, dan konsultasi.

“Salah satu insentif fiskal dapat dilihat melalui aspek perpajakan. Insentif tersebut sudah diterapkan di berbagai negara seperti Malaysia, Italia, dan India. Di Indonesia, ini belum dilakukan. Jika dilakukan, akan menjadi pendorong pengembang mengadopsi prinsip hijau,” tutur John.

Kehadiran insentif ini sangat penting bagi pelaku industri properti, terlebih lagi di negara berkembang dengan tingkat permintaan hunian yang tinggi. Ibaratnya, kata John, visi pembangunan properti ramah lingkungan tak menghambat pelaku industri menyediakan kebutuhan perumahan yang masih cukup besar seperti di Indonesia. 

“Dengan angka backlog yang tinggi, penerapan konsep bangunan hijau menjadi tantangan, karena pastinya meningkatkan biaya. Karena itu dibutuhkan insentif yang tepat bagi para pelaku industri,” kata John.

Oleh karena itu, langkah yang sedang dilakukan oleh pemerintah di dunia pada sektor real estate adalah mengkampanyekan pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan pada bangunan (green building) yang memenuhi syarat-syarat dalam SDGs.

“Satu kontribusi utama LPKR terhadap langkah pembangunan keberlanjutan dan ESG melalui pembangunan perumahan dengan tata kelola lingkungan yang baik. Dalam hal hunian, Lippo menerapkan konsep hijau dengan menghadirkan rumah ramah lingkungan dengan harga terjangkau,” ungkap John.

Konsep hijau yang dimaksudkan tidak sekadar memberikan luasan yang cukup bagi ruang hijau yang memperbaiki iklim mikro, namun melakukan pengelolaan air limpasan air hujan maupun limbah dari hunian sehingga menjadi cadangan air bagi lingkungan perumahan dengan baku mutu yang baik.  

Hal ini, lanjutnya, sejalan dengan visi Lippo Group sebagai salah satu perusahaan pertama dari Asia Tenggara yang menandatangani World Economic Forum (WEF) inisiatif Stakeholder Capitalism Metrics (SCM) bersama dengan lebih dari 100 perusahaan internasional kelas dunia lainnya yang berorientasi kepada Principle of Governance, Planet, People dan Prosperity.

Editor : Jeanny Aipassa

Bagikan Artikel:







Lokasi Tidak Terdeteksi

Aktifkan untuk mendapatkan berita di sekitar Anda