Kisah Si Menteri Marathon dan Tari Legong yang Hiasi Uang Kertas Baru Rp50.000

Cahya Puteri Abdi Rabbi ยท Rabu, 31 Agustus 2022 - 20:19:00 WIB
 Kisah Si Menteri Marathon dan Tari Legong yang Hiasi Uang Kertas Baru Rp50.000
Warga antusias melakukan penukaran uang kertas baru yang dikeluarkan Bank Indonesia pada 18 Agustus 2022. (Foto: dok iNews)

JAKARTA, iNews.id - Ada kisah menarik tentang si menteri marathon dan tari legong yang menghiasi uang kertas Rp50.000, yang merupakan satu dari tujuh pecahan Uang Rupiah Kertas Tahun Emisi 2022 (Uang TE 2022) yang dikeluarkan pemerintah dan Bank Indonesia (BI), pada 18 Agustus 2022.

Ketujuh pecahan uang baru tersebut secara resmi berlaku, dikeluarkan, dan diedarkan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) bertepatan pada  HUT-77 Kemerdekaan RI, 17 Agustus 2022.

Adapun, Uang TE 2022 terdiri atas pecahan uang Rupiah kertas Rp100.000, Rp50.000, Rp20.000, Rp10.000, Rp5.000, Rp2.000, dan Rp1.000. Uang Rupiah TE 2022 masih menggunakan gambar pahlawan nasional sebagai gambar utama, serta tema kebudayaan Indonesia seperti gambar tarian, pemandangan alam, dan flora pada bagian belakangnya.

Pada pecahan uang Rp50.000, gambar utama yang ada di bagian depan adalah Ir.H. Djuanda Kartawidjaja yang merupakan salah satu tokoh penting dalam kemerdekaan Indonesia.

Djuanda dilahirkan di Tasikmalaya pada 14 Januari 1911. Dia adalah putra dari pasangan Raden Kartawidjaja dan Nyi Monat. Dia menduduki banyak jabatan menteri semasa hidupnya, hingga mendapat julukan khusus yakni Menteri Marathon. 

Djuanda menyelesaikan pendidikan sekolah dasarnya di Hollandsch Inlansdsch School (HIS) dan kemudian pindah ke Europesche Lagere School (ELS) yang merupakan sekolah untuk anak orang Eropa dan lulus pada tahun 1924.

Setelah itu, ia dimasukkan ayahnya ke sekolah menengah khusus orang Eropa bernama Hoogere Burgerschool te Bandoeng dan lulus pada 1929. Kemudian, ia menempuh pendidikan tingginya di Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang Institut Teknologi Bandung) jurusan Teknik Sipil dan lulus pada 1933.

Masa mudanya diwarnai oleh keaktifannya dalam berorganisasi, seperti Paguyuban Pasundan dan anggota Muhammadiyah. Beliau juga pernah menjadi pemimpin sekolah Muhammadiyah dan bekerja sebagai pegawai Departemen Pekerjaan Umum provinsi Jawa Barat, Hindia Belanda sejak 1939.

Pada 28 September 1945, Djuanda memimpin pemuda untuk mengambil alih Jawatan Kereta api dari Jepang, disusul dengan pengambil alihan jawatan Pertambangan , Keresidenan, Kotapraja, serta obyek militer yang ada di gudang utara Bandung.

Pemerintah Indonesia kemudian mengangkat Djuanda sebagai kepala jawatan kereta api wilayah Jawa dan Madura. Setelah itu, beliau diangkat menjadi Menteri Perhubungan. Ia juga pernah menjabat sebagai Menteri Pengairan, Menteri Kemakmuran, Menteri Keuangan, dan Menteri Pertahanan.

Selain terkenal dengan deretan jabatan menterinya, Djuanda juga beberapa kali mengikuti perundingan dengan Belanda di antaranya dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) dan bertindak sebagai Ketua Panitia Ekonomi dan Keuangan Delegasi Indonesia.

Pada saat Agresi Militer Belanda II paska proklamasi, pada tanggal 19 Desember 1948, Djuanda sempat ditangkap oleh tentara Belanda dan dibujuk agar beliau mau bergabung dengan pemerintahan Negara Pasundan.

Pada 13 Desember 1957, saat menjabat menjadi perdana menteri, beliau mencetuskan Deklarasi Djuanda yang menyatakan kepada dunia bahwa laut Indonesia adalah termasuk laut sekitar, di antara dan di dalam kepulauan Indonesia menjadi kesatuan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) atau dikenal dengan negara kepulauan dalam Konvensi hukum laut United Nations Convention on Law of the Sea (UNCLOS).

Selain Djuanda, pada sisi belakang uang pecahan Rp50.000 juga terdapat gambar Tari Legong yang disandingkan dengan keindahan alam Taman Nasional Komodo, serta dipadukan dengan keanggunan Bunga Jepun Bali. 

Tari Legong berasal dari Pulau Dewata, Bali. Tarian ini dikenal dengan gerakannya yang cukup kompleks berupa perpaduan antara gerakan penari dan iringan musik gamelan tradisional asal Bali. Gerakan kompleks dalam tari legong ini disebabkan karena adanya unsur gambuh, yang merupakan tarian tertua di Bali dan menduduki kasta tertinggi dalam seni tari Bali.

Tari legong memiliki makna yang dalam, yakni tentang nilai keagamaan dan sejarah dalam budaya Bali. Gerakan dalam tarian ini merupakan wujud dari ungkapan terima kasih dan rasa syukur masyarakat Bali terhadap nenek moyang yang telah memberikan keberkahan melimpah untuk keturunannya.

Editor : Jeanny Aipassa

Bagikan Artikel:








Lokasi Tidak Terdeteksi

Aktifkan untuk mendapatkan berita di sekitar Anda