LPS: Profitabilitas Perbankan Turun, Rasio Kredit Bermasalah Tinggi

Ranto Rajagukguk ยท Rabu, 22 November 2017 - 15:44:00 WIB
LPS: Profitabilitas Perbankan Turun, Rasio Kredit Bermasalah Tinggi
Ilustrasi (Foto: iNews.id/Yudistiro)

JAKARTA, iNews.id – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) melaporkan dalam lima tahun terakhir tingkat profitabilitas perbankan terus mengalami penurunan menyusul margin dari penyaluran kredit yang lemah dan masih tingginya rasio kredit bermasalah.

Demikian disampaikan Ketua Dewan LPS Halim Alamsyah Halim dalam seminar nasional yang digagas INDEF di Jakarta, Rabu (22/11/2017). Dia menyebutkan, salah satu penyebab margin bunga yang lemah karena terus menurunnya bunga kredit. Hal itu membuat perbankan harus berpikir keras untuk menghasilkan laba yang tinggi.

Selain itu, Halim juga menyoroti kualitas kredit yang belum pulih. Ironisnya, kebijakan relaksasi restrukturisasi kredit diubah oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), meski risiko kredit (credit at risk) masih tinggi.

"Profitabilitas bank itu cenderung menurun. Rasio kredit bermasalah juga tinggi, kemudian ada regulasi ketat dari OJK dan Bank Indonesia," ujarnya, seperti dikutip dari Antara.

Halim menggambarkan, menurunnya profitabilitas dapat terlihat dari terpangkasnya tingkat keuntungan dari aset (return on assets/ROA) perbankan dalam tiga tahun terakhir.

Misalnya, untuk Bank beraset besar atau Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) IV, perolehan ROA pada bulan Desember 2017 mencapai 4 persen, kemudian menurun ke rentang 2,5-3 persen pada bulan Desember 2016, dan stagnan di kisaran 3 persen pada bulan September 2017.

"Dari data saya, selain pelemahan kredit, ya, juga sudah terlihat dari 2011. ROA terus menurun. Sekarang sulit untuk keseluruhan melebihi 3 persen," ujarnya.

Halim juga menyoroti pertumbuhan kredit yang terus melambat. Pada bulan September 2017, kredit hanya tumbuh 7,9 persen, atau menurun dibanding Agustus 2017 yang sebesar 8,4 persen.

Penyebab lainnya profitabilitas bank terus menurun adalah kompetisi perbankan yang semakin ketat, ditambah masuknya pemain-pemain di sektor jasa keuangan, seperti industri teknologi finansial (Tekfin/Fintech).

Halim yang juga mantan Deputi Gubernur BI meyakini perbankan ke depan akan lebih selektif dalam ekspansi bisnis karena masih menuntaskan konsolidasi bisnis. Perbankan juga harus mengubah strategi bisnis karena pola konsumsi masyarakat sudah berubah.

Editor : Ranto Rajagukguk

Bagikan Artikel:







Lokasi Tidak Terdeteksi

Aktifkan untuk mendapatkan berita di sekitar Anda