Mata Uang Rubel Melemah setelah Sentuh Level Tertinggi, Ini Penyebabnya
MOSKOW, iNews.id - Mata uang Rubel melemah pada hari Selasa (17/5/2022) waktu setempat, menjauh dari level tertinggi hampir lima tahun terhadap euro. Hal ini terjadi setelah bank sentral Rusia melonggarkan beberapa kontrol modal yang merupakan pendorong utama kekuatan dalam beberapa minggu terakhir.
Dikutip dari Reuters, rubel telah menjadi mata uang dengan kinerja terbaik di dunia tahun ini, meskipun ada krisis ekonomi skala penuh. Penguatan terjadi karena dukungan buatan dari kontrol yang diberlakukan Rusia untuk melindungi sektor keuangannya pada akhir Februari setelah mengirim puluhan ribu tentara ke Ukraina.
Rubel melemah 0,7 persen pada 63,89 terhadap dolar, menjauh dari level 62,6250 yang dicapai pada hari Jumat, level terkuat sejak awal Februari 2020.
Terhadap euro, rubel turun 1,1 persen menjadi 66,50, melayang di dekat level terkuatnya sejak pertengahan 2017 di 64,9425 yang disentuh minggu lalu.
Sebelumnya, rubel memangkas kenaikan setelah bank sentral menaikkan batas atas untuk transaksi lintas batas, di mana hal ini memungkinkan penduduk Rusia dan non-penduduk dari negara-negara sahabat untuk menyalurkan mata uang asing ke luar negeri dengan jumlah yang setara hingga 50.000 dolar AS per bulan, dari batas sebelumnya 10.000 dolar AS.
Keputusan ini tidak mungkin segera mengubah keseimbangan kekuatan di pasar, di mana perusahaan yang berfokus pada ekspor diwajibkan untuk mengkonversi 80 persen dari pendapatan mereka. Sebab, bank sentral tidak dapat mengintervensi dirinya sendiri setelah Barat membekukan sekitar setengah dari emas dan valuta asing cadangan.
"Namun, langkah terbaru dari bank sentral dapat dilihat sebagai indikasi bahwa fase reli rubel baru-baru ini dapat segera berakhir," ujar Broker BCS dikutip, Rabu (18/5/2022).
Di pasar saham, indeks RTS (.IRTS) berdenominasi dolar turun 0,2 persen menjadi 1,171,6 poin, sedangkan indeks MOEX Rusia (.IMOEX) berbasis rubel naik 0,5 persen menjadi 2.377,6 poin.
Editor: Aditya Pratama