Menengok Tiga Opsi Restrukturisasi Utang Garuda Indonesia, Nomor 3 Bisa Berujung Pailit

Suparjo Ramalan · Rabu, 10 November 2021 - 17:48:00 WIB
 Menengok Tiga Opsi Restrukturisasi Utang Garuda Indonesia, Nomor 3 Bisa Berujung Pailit
Kantor Pusat Garuda Indonesia. (Foto: dok iNews)

JAKARTA, iNews.id - Kementerian BUMN menyiapkan tiga opsi restrukturisasi utang PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, senilai senilai 9,8 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp139 triliun. 

Wakil Menteri (Wamen) BUMN II, Kartika Wirjoatmodjo, mengatakan ketiga opsi restrukturisasi utang Garuda Indonesia tersebut, yaitu out of court, in court, dan Homologasi.

"Opsi restrukturisasi utang Garuda Indonesia ini telah kami klasifikasikan sejak April 2021," ujar Wamen BUMN yang akrab disapa Tiko itu, Rabu (10/11/2021). 

Dia menjelaskan, masing-masing opsi tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan. Meski demikian, Kementerian BUMN akan melakukan upaya terbaik untuk merestrukturisasi utang Garuda Indonesia senilai 9,8 miliar dolar AS. 

Berikut rincian tiga opsi restrukturisasi utang Garuda Indonesia yang dirancang Kementerian BUMN: 

1. Restrukturisasi Out of Court 

Opsi ini mendorong manajemen Garuda Indonesia memberikan penawaran yang berbeda kepada setiap lessor. Adapun jumlah lessor emiten yang mencapai 32 perusahaan. 

Dengan opsi ini, tidak ada jangka waktu pelunasan utang yang harus dipenuhi Garuda, hingga ketiadaan biaya pengadilan. Namun di lain sisi, manajemen Garuda Indonesia perlu mengajukan moratorium kepada kreditur, lalu melakukan negosiasi dengan masing-masing kreditur, hingga perlakuan tidak setara (unequal treatment) antara kreditur potensial. Adapun Poin terakhir ini berisiko pada tuntutan hukum di kemudian hari.

2. Restrukturisasi In Court

Opsi ini memberi peluang bagi Garuda Indonesia untuk mengikat seluruh krediturnya, untuk mengakhiri atau melakukan negosiasi ulang perjanjian sewa yang memberatkan, kemudian adanya rencana perdamaian yang tidak perlu disetujui oleh seluruh kreditur. 

Namun restrukturisasi in court membutuhkan biaya cukup besar, hingga potensi berisiko pailit. Meski begitu, pemegang saham cenderung lebih memilih opsi in court

"Kami cenderung mendorong ini menjadi restrukturisasi in court. Ini kita sedang diskusikan, apakah opsi utamanya menjadi restrukturisasi in court," ujar Tiko. 

Opsi In Coury diputuskan melalui Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) di pengadilan. Tiko menyebut, PKPU akan dilakukan melalui pengadilan Inggris.

Dimana, dalam forum legal tersebut akan menentukan proposal restrukturisasi utang Garuda Indonesia akan ditolak atau disetujui. 

Keputusan ini juga memberikan dua kemungkinan yang nantinya diterima manajemen maskapai penerbangan pelat merah itu yakni, homologasi dan resiko pailit.  

3. Restrukturisasi Homologasi 

Homologasi atau pemberian persetujuan dicapai bila proposal restrukturisasi perusahaan diterima. Sebaliknya, opsi kepailitan Garuda Indonesia akan terjadi bila proposal ditolak. 

"Kalau votingnya setuju dengan proposal perdamaian, akan jadi homologasi, mengikat semua pihak. Kalau gagal, kreditur tidak setuju, akan pailit," tutur Tiko.

Editor : Jeanny Aipassa

Bagikan Artikel: