Miliarder Rusia Ditangkap di Inggris, Diduga Lakukan Pencucian Uang

Jeanny Aipassa ยท Minggu, 04 Desember 2022 - 23:16:00 WIB
Miliarder Rusia Ditangkap di Inggris, Diduga Lakukan Pencucian Uang
Mikhail Fridman. (Foto: Reuters)

LONDON, iNews.id - Seorang miliarder Rusia yang diidentifikasi sebagai Mikhail Fridman, ditangkap di London, Inggris, Sabtu (3/12/2022). 

Pengusaha yang merupakan pendiri Alfa Group, salah satu bank terbesar di Rusia berkewarganegaraan israel itu, diduga melakukan pencucian uang, konspirasi untuk menipu Kantor Dalam Negeri dan konspirasi untuk melakukan sumpah palsu.

Badan Kejahatan Nasional Inggris dalam pernyataannya (tanpa menyebutkan identitas Mikhail Fridman), miliarder tersebut mengatakan atas dugaan kejahatan tersebut, petugas telah menyita sejumlah perangkat digital dan uang tunai dalam jumlah besar di rumah Mikail Fridman. 

"Petugas telah menyita sejumlah perangkat digital dan sejumlah besar uang tunai dari kediamannya bernilai jutaan pound saat dia ditangkap," bunyi pernyataan Badan Kejahatan Nasional Inggris, seperti dikutip CNBC, Minggu (4.12/2022).

Disebutkan, dua orang lainnya juga ditangkap terkait kasus tersebut, namun ketiganya telah dibebaskan dengan jaminan setelah diinterogasi.

TASS Rusia mengutip sumber yang dekat dengan Mikail Fridman mengatakan dia “ditahan karena dicurigai melanggar sanksi yang dijatuhkan padanya,” tanpa menjelaskan lebih lanjut.

Lahir dari keluarga Yahudi di kota Lviv, Ukraina bagian barat pada tahun 1964, Fridman belajar di Moskow dan melanjutkan untuk membangun kerajaan bisnis yang luas yang mencakup segala hal mulai dari minyak dan gas hingga perbankan, telekomunikasi, dan distribusi. 

Ia dikenal sebagai pendiri Alfa Bank, lembaga keuangan swasta terbesar di Rusia. Fridman, bersama dengan oligarki Rusia terkait Kremlin lainnya, terkena sanksi Barat setelah Rusia menginvasi Ukraina pada Februari.

Meskipun Fridman telah memupuk ikatan yang kuat dengan pemerintahan Putin, dia tidak pernah menjadi bagian dari lingkaran dalam presiden. Sehari setelah invasi, dia berbicara menentang pertumpahan darah di Ukraina, menyebutnya sebagai "tragedi" bagi kedua belah pihak.

Editor : Jeanny Aipassa

Follow Berita iNews di Google News

Bagikan Artikel:




Lokasi Tidak Terdeteksi

Aktifkan untuk mendapatkan berita di sekitar Anda