PAM Mineral Bukukan Laba Bersih Rp358 Miliar hingga Semester I 2025, Melesat 386,51 Persen
"Kami melihat bahwa penurunan harga nikel tersebut merupakan koreksi positif dan sudah diprediksi oleh perseroan. Perseroan sudah menyiapkan langkah antisipatif sejak awal tahun, tercermin dengan kinerja operasional dan keuangan Perseroan yang bertumbuh pada semester pertama tahun 2025," kata Ruddy.
Dia meyakini penurunan harga nikel merupakan fluktuasi jangka pendek dan NICL berkomitmen untuk tetap adaptif terhadap situasi terkini guna mempersiapkan juga mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi.
“Di tengah situasi geopolitik global yang belum stabil dan turut berdampak pada perekonomian dalam negeri, kami tetap merasa puas dengan kinerja operasional dan keuangan Perseroan pada kuartal kedua 2025.” ujarnya.
Sementara itu, aset NICL hingga semeser I 2025 mencapai Rp1,09 triliun, tumbuh sekitar 4,73 persen dibandingkan dengan aset pada tahun 2024 sebesar Rp1,05 triliun.
Adapun, liabilitas perseroan Sebesar Rp150,69 miliar, turun dibandingkan dengan tahun 2024 sebesar Rp171,92 miliar. Di sisi lain, total ekuitas mengalami peningkatan dari Rp878,18 miliar menjadi Rp949,13 miliar pada periode semester I 2025,