Pekerja Mogok Massal karena Biaya Hidup Naik, Krisis BBM di Prancis Memburuk

Mochamad Rizky Fauzan · Selasa, 18 Oktober 2022 - 16:26:00 WIB
Pekerja Mogok Massal karena Biaya Hidup Naik, Krisis BBM di Prancis Memburuk
Pekerja mogok massal karena biaya hidup naik, krisis BBM di Prancis memburuk. Foto: Reuters

PARIS, iNews.id - Presiden Prancis Emmanuel Macron mengadakan pertemuan dengan para menteri senior pada Senin (17/10/2022) waktu setempat untuk mengatasi masalah yang melumpuhkan kilang bahan bakar hingga menyebabkan SPBU mengering. Hal itu terjadi karena aksi mogok di industri perminyakan. 

Macron mengatakan, ingin mendapatkan solusi secepat mungkin dan berjanji melakukan yang terbaik. Sementara itu, Menteri Energi Prancis Agnes Pannier-Runacher menuturkan, pemerintah telah memerintahkan pemogok di dua depot di Feyzin, dekat Lyon untuk kembali bekerja atau menghadapi tuntutan pidana. 

Adapun Lyon adalah salah satu wilayah yang paling parah mengalami kriisis BBM di negara itu, dengan hampir 40 persen SPBU kehabisan stok satu bahan bakar pada hari Minggu. Di tempat lain, hampir sepertiga SPBU telah kehabisan setidaknya satu bahan bakar. Menurut Perdana Menteri Prancis Elisabeth Borne, kondisi tersebut diperkirakan akan memburuk pekan ini. 

Ini merupakan kedua kalinya dalam beberapa minggu terakhir pemerintah Prancis telah mengambil langkah yang tidak biasa dengan merekrut staf penting dalam menghadapi pemogokan selama berminggu-minggu di kilang yang dimiliki oleh ExxonMobil dan TotalEnergies, yang telah mengganggu pasokan ke ribuan SPBU.

Sementara pekerja ExxonMobil setuju untuk mengakhiri blokade mereka terhadap kilang dan depot Fos-sur-Mer di Prancis selatan akhir pekan lalu setelah negosiasi gaji. Namun pemogokan berlanjut di kilang TotalEnergies.

Salah satu serikat pekerja terbesar di Prancis, CGT telah menolak untuk menerima persyaratan kesepakatan upah yang disepakati antara TotalEnergies dan dua serikat pekerja lainnya, CFE-CGC dan CFDT. Perjanjian tersebut mencakup kenaikan gaji 7 persen untuk 2023 dan bonus untuk semua karyawan yang setara dengan gaji satu bulan. CGT telah menuntut kenaikan gaji 10 persen.

Tetapi Menteri Keuangan Prancis Bruno Le Maire mengatakan, pemogokan itu tidak dapat diterima dan tidak sah karena kesepakatan upah telah dipenuhi dengan mayoritas pekerja. 

"Waktu untuk negosiasi telah berakhir," katanya, dikutip dari CNN Business, Selasa (18/10/2022).

Dalam sebuah wawancara dengan France Inter, perwakilan CGT, Philippe Martinez mengklaim bahwa ribuan pekerja masih mogok. Ini bertentangan dengan pemerintah yang menyebut pekerja yang mogok hanya segelintir dan beberapa pekerja. 

Menteri Transportasi  Prancis Clement Beaune mengatakan kepada France Inter bahwa satu-satunya jalan keluar dari krisis adalah mengakhiri pemogokan. Sementara itu, para komuter dapat menghadapi kekacauan perjalanan selama berhari-hari jika pemogokan yang direncanakan di jaringan transportasi umum Paris dan bagian-bagian dari jaringan kereta api nasional tetap berjalan. 

Beaune mengatakan, di daerah yang terkena dampak terburuk, hanya satu dari dua kereta yang akan beroperasi pada hari Selasa.

Adapun aksi protes di sektor industri akibat meningkatnya biaya hidup di Prancis, di mana tagihan listrik melonjak sebagai akibat dari pemotongan pasokan gas Rusia yang telah memicu krisis energi di Eropa. Pada hari Minggu, ribuan orang demo di pusat kota Paris untuk memprotes krisis dan kelambanan iklim.

Editor : Jujuk Ernawati

Follow Berita iNews di Google News

Bagikan Artikel:




Lokasi Tidak Terdeteksi

Aktifkan untuk mendapatkan berita di sekitar Anda