Perbankan Rusia Rugi Rp385 Triliun Imbas Perang dengan Ukraina

Dinar Fitra Maghiszha ยท Sabtu, 24 September 2022 - 10:41:00 WIB
Perbankan Rusia Rugi Rp385 Triliun Imbas Perang dengan Ukraina
Perbankan Rusia rugi Rp385 triliun imbas perang dengan Ukraina. Foto: Reuters

MOSKOW, iNews.id - Bank-bank Rusia rugi sekitar 25,5 miliar dolar AS atau setara Rp385 triliun sebagai akibat dari perang dengan Ukraina. Hal itu diungkapkan pejabat bank sentral negara tersebut. 

Mengutip Reuters, Laxim Lyubomudrov, yang mengepalai departemen regulator yang mengawasi bank-bank terbesar di Rusia, mengatakan bahwa itu adalah tingkat kerugian yang 'dapat diterima'. Selain itu, pemerintah memiliki rencana untuk mendukung pemberi pinjaman Rusia melewati krisis. 

Pada awal bulan ini, Wakil Ketua Bank Sentral Rusia Dimitry Tulin mengatakan, kerugian terkonsentrasi di antara bank-bank terbesar. Dia mengungkapkan, sekitar dua pertiga dari kerugian yang diderita bank-bank Rusia terkait dengan operasi mata uang asing.

Adapun bank sentral Rusia tidak ingin krisis perbankan 2014-2017 terulang kembali. Saat itu, kata Tulin, regulator harus menyelamatkan beberapa pemberi pinjaman dan mencabut izin perbankan dari ratusan bank dengan modal buruk. 

Sementara itu, akibat perang, ekonomi Rusia dinilai tengah bermasalah. Itu karena surplus anggaran Rusia susut pada Agustus menjadi 2,3 miliar dolar AS dari akhir Juni yang mencapai 23 miliar dolar AS. 

Hal itu imbas sanksi Barat dan harga minyak yang anjlok karena merupakan komponen terbesar dibanding gas alam yang berkontribusi pada anggaran Rusia. Sementara harga minyak mentah patokan Eropa, Brent telah anjlok 25 persen sejak puncaknya pada awal Juni lalu. 

Menurut pakar Eropa Timur di Institut Jerman untuk Urusan Internasional dan Keamanan Janis Kluge, pengeluaran Rusia meningkat tajam, baik pada militer, dan pada langkah-langkah untuk melindungi ekonomi dari dampak sanksi Barat. Menurutnya, lubang di keuangan Kremlin bisa menjadi lebih luas karena pengeluaran militer yang meningkat.

"Pengeluaran militer awalnya direncanakan menjadi 3,5 triliun rubel tahun ini, tetapi tingkat ini kemungkinan besar sudah terlampaui pada bulan September," kata Kluge.

Namun Presiden Rusia Vladimir Putin membantah ekonomi negaranya sedang dalam masalah. Dia mengatakan, taktik 'economic blitzkrieg' Barat telah gagal, dan Rusia dapat mengatasi tekanan eksternal.

Editor : Jujuk Ernawati

Follow Berita iNews di Google News

Bagikan Artikel:




Lokasi Tidak Terdeteksi

Aktifkan untuk mendapatkan berita di sekitar Anda